Tujuanpenelitian ini yaitu ingin mengetahui hadis-hadis yang dijadikan pijakan dalam berseni tari dan mengetahui kedudukan seni tari menurut hadis serta pemahaman dan implementasinya melalui penelitian yang berjudul "Seni Tari dalam Perspektif Hadis" Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu melakukan peninjauan terhadap kajian kepustakaan (library research) yang merupakan sebuah proses dalam pengumpulan data pada sumber latar belakang alamiah.
Allahjuga mengatur hukum menari dalam Islam, Allah berfirman dalam QS. Al-Isra: 37 yang berarti : "Dan jangan kamu berjalan di muka bumi dengan al-marah, karena sungguh kamu tidak akan menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung". Kemudian Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan. ุงุณูุชูุฏูููู ุงููุนูููู
ูุงุกู
1 Kata-Kata Tentang Seni Penuh Inspirasi. Ilustrasi (Credit: PIxabay) Inspirasi seniman bisa diperoleh dari mana saja hingga mereka bisa menciptakan karya yang begitu menakjubkan. Oleh sebab itu, kata-kata tentang seni dari mereka seperti berikut ini terdengar sangat inspiratif. Silakan baca dan temukan pemikiran yang keren dari mereka. 1.
Senirupa Islam adalah seni rupa yang berkembang pada masa lahir hingga akhir masa keemasan Islam.Rentang ini bisa didefinisikan meliputi Jazirah Arab, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Eropa sejak mulai munculnya Islam pada 571 M hingga mulai mundurnya kekuasaan Turki Ottoman.Walaupun sebenarnya Islam dan keseniannya tersebar jauh lebih luas daripada itu dan tetap bertahan hingga sekarang.
A Perspektif al-Qur'an tentang Seni Rupa 53 B. Perspektif Hadis tentang Seni Rupa 65 C. Signifikansi Seni Rupa dalam Konteks Kekinian 71 BAB V, PENUTUP 80 A. Kesimpulan 80 B. Saran 82 Daftar Pustaka 84 Biografi 87 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (21.02.2019) xiii ABSTRAK Selama ini pengetahuan mengenai seni, khususnya seni rupa
berbagai strategi permainan sepak bola harus diterapkan terutama dalam. This article discusses the nature of tamatsil in the story of Prophet Sulaiman. The word tamatsil in the Qur'an is found in two surahs, namely Saba' verse 13 and al-Anbiya' verse 52. the Saba' verse explains that the jinn was ordered by Prophet Solomon to make statues, the word used in this verse is finish. So, if the sentence in the verse is a command, it means that there is no prohibition against making it. But it is different again from the letter al-Anbiya 'verse 52. In that verse, the Prophet Ibrahim was surprised at his people who worshiped tamatsil. The choice of the word tamatsil in this study was due to two things. First, there is a public error in understanding the meaning of the tamatsil. Second, the Ministry of Religion often equates this word with the words shanam and watsan which means statue/idol, even though the three words have different meanings even though there are similarities. The results of this study can be concluded that the essence of tamatsil is something material, shaped, and illustrated which is usually used for decoration or toys. In Indonesia, the term tamatsil is known as duplicate or replica, such as key toys, children's toys in the form of humans, animals, or plants. The law of tamatsil is divided into two opinions, some allow it as long as it is not worshiped, and some forbid it even if it is not worshiped. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 Volume 3 Nomor 1, Juni 2022 ISSN 2723-4894 cetak, ISSN 2723-4886 daring DOI TAMATSIL DALAM AL-QURโAN KAJIAN SENI RUPA DALAM KISAH NABI SULAIMAN Dilla Syafrina Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, Sumatera Utara syafrinadilla97 Ali Akbar UIN Sultan Syarif Kasim Riau aliakbarusman Fikri Mahmud UIN Sultan Syarif Kasim Riau fikrimahmud Masyhuri Putra UIN Sultan Syarif Kasim Riau Abd. Wahid UIN Sultan Syarif Kasim Riau Abstrak Artikel ini membahas tentang hakikat tamatsil dalam kisah Nabi Sulaiman. Kata tamatsil dalam Al-Qurโan terdapat dalam dua surat, yaitu surat Sabaโ ayat 13 dan surat al-Anbiyaโ ayat 52. Dalam surat Sabaโ menjelaskan bahwa jin diperintahkan oleh Nabi Sulaiman untuk membuat patung, kata yang dipakai pada ayat ini adalah tamatsil. Tetapi berbeda lagi dengan surat al-Anbiyaโ ayat 52. Pada ayat tersebut Nabi Ibrahim merasa heran terhadap kaumnya yang menyembah tamatsil. Dipilihnya kata tamatsil dalam penelitian ini disebabkan dua hal. Pertama, adanya kekeliruan masyarakat dalam memahami makna tamatsil tersebut. Kedua, kata tersebut sering disamakan terjemahannya oleh Kementerian Agama dengan kata shanam dan watsan yang berarti patung atau berhala, padahal ketiga kata tersebut memiliki makna yang berbeda sekalipun ada kemiripan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analitis, mendiskripsikan kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Qurโan kemudian menganalisis ayat-ayat tentang tamatsil. Hasil dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa hakikat tamatsil adalah sesuatu yang material, berbentuk, dan bergambar yang lazimnya digunakan untuk hiasan atau mainan. Di Indonesia istilah tamatsil dikenal dengan duplikat atau replika, seperti mainan kunci, mainan anak anak yang berbentuk manusia, binatang, atau Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 tumbuhan. Hukum tamatsil dibagi kepada dua pendapat, ada yang membolehkan selama tidak disembah dan ada yang mengharamkan sekalipun tidak disembah. Kata Kunci Tamatsil, seni rupa, kisah Abstract This article discusses the nature of tamatsil in the story of Prophet Sulaiman. The word tamatsil in the Qur'an is found in two surahs, namely Saba' verse 13 and al-Anbiya' verse 52. The Saba verse explains that the jinn was ordered by Prophet Solomon to make statues, the word used in this verse is finish. But it is different from the letter al-Anbiya 'verse 52. In that verse, the Prophet Ibrahim was surprised at his people who worshipped tamatsil. The choice of the word tamatsil in this study was due to two things. First, there is a public error in understanding the meaning of the tamatsil. Second, the Ministry of Religion often equates these words with the words shanam and watsan which means statues or idols, even though the three words have different meanings even though there are similarities. This research was conducted using a descriptive-analytical method, by describing the story of Prophet Sulaiman in the Qur'an and then analyzing the verses about tamatsil. The results of this study can be concluded that the essence of tamatsil is something material, shaped, and illustrated which is usually used for decoration or toys. In Indonesia, the term tamatsil is known as duplicate or replica, such as key toys, or children's toys in the form of humans, animals, or plants. The law of tamatsil is divided into two opinions, some allow it as long as it is not worshipped and some forbid it even if it is not worshipped. Keywords tamatsil, fine arts, story. PENDAHULUAN Seni adalah salah satu aspek dari aspek jiwa manusia yang lurus. Seni bertemu perasaan dan indera beserta seluruh keindahan dan yang menyenangkan, perasaan ikut berkreatif bersama dengan seluruh gerak-gerik, keindahan kenyamanan. Seni bukan seperti yang difahami oleh sebagian orang sebagai bentuk penggambaran kehidupan yang sia-sia dan main-main, atau seperti yang dipahami orang lain lagi sebagai upaya membangkitkan perasaan dan menggelorakan adalah kegiatan yang menyatakan hubungan antara lahir dan bathin, antara yang fana dan yang kekal. Secara khusus berarti kesanggupan dan kegiatan menciptakan suasana indah yang dapat menimbulkan daya tarik untuk menjadi perhatian dan rasa senang menikmatinya. Kesenian murni meliputi segala yang indah dan menarik disegala bidang penciptaan seni, seperti seni suara, seni rupa, seni lukis, dan fenomena pemandangan alam. Kesenian tentu saja bebas dan Hamad Hasan Ruqaith, Problematika Kontemporer dalam Tinjauan Islam, Jakarta Pustaka Azzam, 2004. h, 139. Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 otonom, dalam pengertian bahwa ia mempunyai kaidah tersendiri, tidak terikat teori, etika, norma, namun berdasarkan estetika yang rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Contoh karya seni rupa murni adalah lukisan, patung, grafis, mozaik, ukiran, relief, kaligrafi, seni fotografi, seni koreografi, dan kerajinan dari telah menunjukkan kepada umat manusia akan keindahan yang terdapat pada bentuk lahiriah sisi empirik yang dapat diamati. Bagi seorang pengamat yang berjiwa seni, memang alam semesta ini penuh dengan keindahan.๎Alam adalah objek dan mahaguru bagi para seniman. Keindahan alam yang tampak memberikan kesan-kesan bagi penginderaan. Namun keselarasan, keharmonisan, keunikan serta ketertiban dan keteraturan dalam proses interaksinya yang tersirat menunjukkan betapa Maha Agung Sang Pencipta yang dituangkan pada ciptaan-Nya, yaitu alam semesta ini. Fenomena tersebut mengajak manusia untuk berpikir dan menjadikan pelajaran agar kembali mengingat Allah dan senantiasa mempertebal satu daripada bentuk seni rupa yang tersebut di dalam al-Qurโan adalah timtsal yang bentuk jamaknya adalah tamatsil. Sebagaimana yang terdapat dalam kisah Nabi Sulaiman pada surat Sabaโ ayat 13. Dalam ayat ini para jin diperintahkan oleh Nabi Sulaiman untuk membuat patung, dimana lafazh yang dipakai adalah Tamatsil. Jika kalimat dalam ayat itu bersifat perintah berarti tidak ada larangan padanya. Tetapi berbeda lagi di dalam surat al-Anbiyaโ ayat 52 dan beberapa riwayat hadits yang melarang tamatsil. Kajian tetang tamatsil telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, seperti Umi Hanifa dalam skripsinya mengkaji tentang seni rupa dalam Al-Qur'an yang menemukan bahwa aspek seni rupa dikerucutkan sebagai bidang penyaji benda-benda yang tampak secara visual dan dapat dirasakan dengan rabaan. Begitu juga dengan Muhammad Kholilul Rahman dalam penelitiannya tentang pemakaian kata sinonim ashnam, autsan dan tamatsil. Menurutnya kata-kata ini memiliki perbedaan makna jika ditinjau dari konteks perasaan dan budaya. Dipilihnya kata Tamatsil dalam penelitian ini disebabkan dua hal. Pertama, adanya kekeliruan masyarakat dalam memahami makna tamatsil tersebut. Darwis Hude dkk, Cakrawala Ilmu dalam Al-Qurโan, Jakarta Pustaka Firdaus, 2002. h, 337. Guru Pendidikan, โSeni Rupa Murni dan Terapanโ, dikutip dari pada hari Rabu tanggal 02 Oktober 2019. Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 Misalnya pembangunan Tugu Zapin di depan kantor Gubernur Pekanbaru yang menuai kritikan masyarakat dan menimbulkan pro dan kontra, seperti yang dilansir dari laman pada 26 Januari 2012. Kedua, karena kata tersebut sering disamakan terjemahannya oleh Kementerian Agama dengan kata Shanam dan Watsan yaitu patung/berhala, padahal ketiga kata tersebut memiliki makna yang berbeda sekalipun ada kemiripan. Seperti ๎๎๎๎ฝ๎๎๎๎ฟ๎๎ข๎๎ท๎๎๎พ๎๎ท๎๎ ๎๎บ๎ซ๎๎๎๎๎พ๎ ๎๎ฅ๎๎๎ ๎๎๎พ๎ข๎๎ซ๎๎๎ฏ๎๎ค๎๎๎ฒ๎ ๎๎ฏ๎ข๎๎ธ๎๎ฌ๎ณ๎ฆ๎๎๎๎๎๎ ๎๎จ๎๎ฏ๎ข๎๎๎๎ข๎๎๎ฎ๎๎๎ถ๎๎ฌ๎๎บ๎ป๎๎ข๎ ๎๎๎๎ณ๎ฆ โKetika Ibrahim berkata kepada ayah dan kaumnya apakah ini patung-patung/berhala-berhala yang kalian kepadanya orang-orang yang terus menerus menyembah.โ QS. Al-Anbiyaโ, 52Ketiga, kata tersebut sering disalahpahami oleh banyak orang. Dapat dilihat pada masa sekarang ini, masih banyak dari kalangan masyarakat yang memahami makna ayat hanya bermodalkan al-Qurโan terjemah dan kamus saja tanpa memperdulikan makna secara kontekstual, sehingga kata yang disamakan artinya dianggap memiliki makna dan hukum yang sama. Istilah mengenai hal ini dikenal dengan taraduf. Taraduf ialah kata yang beragam lafadz tetapi mempunyai satu makna. Taraduf terdapat dalam bahasa, namun itu hanya berkenaan makna dasarnya, tidak makna sekundernya. Dalam al-Qurโan sebaiknya taraduf itu dihindari. Mengenai hal ini al-Sabt membuat kaidah ๎ง๎ ๎ด๎๎ญ๎ฆ๎๎ ๎ ๎ง๎๎ป๎ฎ๎ฆ๎๎ณ๎ฆ๎๎ฟ๎พ๎๎๎ ๎ด๎๎๎๎ข๎๎ฌ๎ณ๎ฆ๎๎ท๎ข๎จ๎ณ๎ข๎๎ฒ๎ง๎๎บ๎ฐ๎ท๎ข๎๎ข๎ธ๎ ๎ท โArtinya Selama kata-kata al-Qurโan masih mungkin dibawa kepada ketidaksamaan makna, maka itulah yang perlu dilakukan.โ banyak ayat-ayat yang menyebut benda-benda seperti piring, gelas, permadani, dipan, dan pakaian sebagai gambaran fasilitas kehidupan surga. Al-Qurโan juga memberi penjelasan mengenai material yang di gunakan untuk membuat benda-benda ini, seperti emas, perak, dan sutra sebagai material pakaian. Pada ranah duniawi, tungku dan bejana pada istana Nabi Sulaiman sudah cukup mewakili bagaimana sebenarnya eksistensi kriya, yaitu memiliki nilai fungsional dan dapat diaplikasikan sebagai hiasan dalam konteks ini, hiasan Departemen Agama RI, Al-Qurโan Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka, Jakarta Kalim, 2010. h, 327. Salman Harun, Kaidah-Kaidah Tafsir, Jakarta QAF, 2017. h, 463. Kriya adalah kegiatan seni yang menitikberatkan pada keterampilan tangan dan fungsi untuk mengolah bahan baku yang sering ditemukan di lingkungan menjadi benda-benda yang tidak hanya bernilai pakai, tetapi juga bernilai estetis. Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 interior atas keindahannya. Adapun pertanyaan dalam penelitian ini yaitu, apa hakikat dan bagaimana hukum tamatsil dalam perspektif ulama tafsir ? Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui hakikat tamatsil dan hukumnya, sehingga dapat diketahui beda istilah tamatsil dengan istilah yang disamakan dengannya ashnam dan awtsan. METODE Penelitian ini merupakan jenis penelitian library research penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Sumber primer penelitian ini adalah kitab tafsir al-Munir karya Wahbah Zuhaili dan kitab tafsir ath-Thabari serta didukung dengan sumber sekunder yaitu buku-buku terkait dengan pembahasan penelitian, jurnal, hasil penelitian dan lain sebagainya. Setelah data terkumpul kemudian dideskripsikan dan dianalisa secara mendalam dengan pola induktif kemudian disimpulkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Makna Tamatsil Di dalam kamus Lisanul Arab, makna tamatsil adalah๎๎๎๎พ๎ข๎ฐ๎ค๎ฒ๎ ๎ฏ๎ข๎ธ๎ฌ๎ณ๎ฆ๎๎๎ธ๎ช๎ฆ๎๎๎๎๎จ๎ฐ๎ ๎๎ณ๎ฆ ๎พ๎ ๎ณ๎ฆ๎๎๎๎ผ๎ ๎๎พ๎ป๎๎ฏ๎๎๎ท๎๎ฝ๎ฐ๎ ๎๎๎๎ ๎ ๎๎ณ๎ฆ๎๎พ๎ณ๎๎ฒ๎ฐ๎ท๎๎Timtsal gambar, jamaโnya adalah Tamatsil. Membuat contoh baginya sesuatu membuat duplikat akannya seolah-seolah ia terlihat seperti bentuk aslinya. ๎ง๎งด๎ฆ๎ฆ๎งค๎ฆ๎งญ bentuk jamak dari ๎ง๎ฆ๎ฆ๎งค๎ฆ, yang artinya adalah setiap sesuatu yang diberi jisim dan dibentuk seperti bentuk binatang, baik itu yang terbuat dari tembaga, kaca, tanah liat maupun yang lainnya patung.๎ง๎ฆ๎ฆ๎งค๎ฆ Artinya setiap yang dibuat berbentuk, seperti bentuk binatang atau bukan binatang. Makna tamatsil menurut beberapa pendapat mufassir di atas adalah sesuatu yang bersifat material, berbentuk, dan bergambar yang terbuat dari kayu, batu, tembaga, kuningan, kaca, tanah liat, dan lain-lain yang dapat berbentuk patung-patung binatang, orang, burung, dan pohon. Umi Hanifa, Seni Rupa dalam Al-Qurโan Kajian Tematik, Yogyakarta Skripsi, 2018. h, 81. Ibnu Manzur, Lisanul Arab, Jilid 6, Daar Al-Maโarif Kairo, 1119. h, 4135. Wahbah Az-Zuhaili, h, 470. Al-Qurtubiy, h, 660. Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 Makna Ashnam Ashnam pada lughat bahasa adalah ๎๎กฆ๎๎๎๎ฎ๎๎บ๎ท๎๎ฆ๎ฎ๎ ๎ฆ๎ ๎ท๎๎๎ผ๎ฌ๎ ๎ณ๎๎ฝ๎๎ฃ๎๎๎ข๎๎ ๎ท๎ฎ๎ก๎๎จ๎ฐ๎ ๎๎๎พ๎ณ๎๎๎๎ฒ๎ข๎ด๎๎๎ข๎๎จ๎๎ง๎๎๎ข๎๎ค๎๎ท๎๎บ๎ท๎๎ช๎ด๎๎ข๎ท๎Artinya โUkiran yang terbuat dari kayu, perak, atau tembaga. Yang memiliki bentuk manusia atau bentuk lain yang dijadikan sebagai sembahan daripada selain Allahโ.๎งข๎งจ๎ฆผ๎ง๎ฆ berhala artinya adalah tubuh yang terbuat dari perak, tembaga atau kayu, yang disembah oleh orang-orang musyrik dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah taโ orang bijak mengatakan bahwa setiap hal yang disembah selain Allah, atau bahkan setiap hal yang dapat menyibukkan atau melalaikan dari mengingat Allah maka dikatakan sebagai ๎งข๎งจ๎ฆป.Dalam Al-Qurโan kata Ashnam disebutkan sebanyak lima kali di dalam ayat berikut 1 Surat Al-Anโam ayat 74 ๎๎๎๎๎ฆ๎๎ท๎๎๎พ๎๎ ๎๎๎ ๎๎ฟ๎๎๎ฎ๎๎ท๎๎ ๎๎บ๎ซ๎๎๎๎๎ฝ๎ฆ๎๎ฐ๎๎ข๎ ๎๎๎๎๎ค๎๎
๎จ๎๎๎ฎ๎ก๎๎ข๎
๎ท๎ข๎๎ผ๎๎๎๎ข๎๎๎๎๎ผ๎๎ฌ๎๎บ๎ซ๎๎ข๎๎๎ฐ๎๎ฑ๎ก๎๎๎พ๎ ๎๎ฅ๎๎๎ ๎๎๎ถ๎ ๎๎ฟ๎ฆ๎๎๎๎บ๎ฅ๎๎ค๎๎๎พ๎ข๎๎ซ๎๎๎ฏ๎๎ค๎๎ โDan ingatlah di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar, โPantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan-Tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyataโ. 2 Surat Al-Aโraf ayat 138 ๎๎๎ธ๎๎ฆ๎๎ณ๎ฆ๎๎๎ฒ๎ ๎๎๎ฆ๎๎๎๎๎๎ค๎ ๎๎๎๎ฆ๎๎ฅ๎๎๎ขญ๎๎ฑ๎๎๎ข๎๎ณ๎๎๎๎๎ถ๎๎๎ฎ๎๎ข๎๎ธ๎๎ฏ๎๎ข๎
๎๎ฎ๎๎ค๎๎ข๎๎ผ๎๎ณ๎๎๎ฒ๎๎ ๎๎ณ๎ฆ๎๎ ๎๎๎ ๎๎ท๎๎ขฎ๎๎ฆ๎ ๎๎ณ๎ข๎๎ซ๎๎๎ถ๎๎๎ฎ๎๎๎ฟ๎ข๎๎ผ๎๎๎๎ข๎๎ ๎๎ด๎๎๎๎๎๎ ๎๎จ๎๎ฐ๎๎ ๎๎บ๎ ๎๎๎ฟ๎๎ ๎๎บ๎ซ๎๎ ๎๎ด๎๎๎๎ฆ๎๎ ๎๎บ๎ซ๎๎๎๎ง๎๎๎๎๎๎๎ ๎๎ด๎๎ ๎๎๎ก๎๎๎ฟ๎๎ ๎๎บ๎ซ๎๎๎ถ๎๎ฐ๎๎ป๎๎ค๎ ๎๎พ๎ข๎๎ซ๎๎๎จ๎๎๎ฎ๎ก โDan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah Tuhan berhala sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan berhalaโ. Musa menjawab โSesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui sifat-sifat Tuhanโ. 3 Surat Ibrahim ayat 35 ๎๎ฟ๎ข๎๎ผ๎๎๎๎๎ ๎ฆ๎๎๎พ๎๎ฆ๎๎ ๎๎บ๎ป๎๎๎๎๎ข๎๎๎๎๎๎ฅ๎๎๎ ๎๎๎๎ฆ๎๎บ๎ผ๎๎ณ๎ฆ๎๎๎๎ข๎
๎ผ๎๎ท๎ก๎๎๎พ๎๎ด๎๎บ๎ฆ๎๎ณ๎ฆ๎๎ฆ๎๎๎๎ฟ๎๎๎ฒ๎๎ ๎๎ณ๎ฆ๎๎๎๎ง๎๎ฐ๎๎๎ถ๎ ๎๎ฟ๎ฆ๎๎๎๎บ๎ฅ๎๎ค๎๎๎พ๎ข๎๎ซ๎๎๎ฏ๎๎ค๎๎ Muhammad Daud, Muโjam Al-Furuq Al-Dilaliyah, Kairo Daar Gharib, 2008. h, 321. Ar-Raghib Al-Ashfahani, Almufradat Fii Ghariib Al-Qurโan, alih bahasa Ahmad Zaini Dahlan, Depok Pustaka Khazanah Fawaโid, 2017. h, 499. Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 โDan ingatlah ketika Ibrahim berkata โYa Tuhanku, jadikanlah negeri ini Mekkah, negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhalaโ. 4 Surat Al-Anbiyaโ 57 ๎๎๎บ๎ ๎๎๎๎ฅ๎๎พ๎๎ท๎๎ฆ๎ ๎๎ณ๎๎ ๎๎บ๎ซ๎๎๎๎๎ข๎๎๎พ๎๎ ๎๎บ๎ฅ๎๎๎ถ๎๎ฐ๎๎ท๎ข๎๎ผ๎๎๎๎ข๎๎๎๎๎พ๎ ๎๎ฏ๎๎๎ ๎๎๎๎ก๎๎ขซ๎๎ โDemi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannyaโ. 5 Surat Asy-Syuaraโ ayat 71 ๎๎๎๎๎จ๎๎ฏ๎ข๎๎๎๎ข๎๎๎ฎ๎๎๎ฒ๎๎๎๎ผ๎๎บ๎ง๎๎ข๎
๎ท๎ข๎๎ผ๎๎๎๎ข๎๎๎พ๎๎ฆ๎๎ ๎๎บ๎ป๎๎ฆ๎ ๎๎ณ๎ข๎๎ซ โMereka menjawab โKami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnyaโ. Hubungan yang terdapat pada kalimat ashnam yang ada dalam ayat-ayat yang mulia ini adalah mengisyaratkan bahwa ashnam adalah sesuatu yang dibuat atau dibentuk yang dalam membuatnya perlu di ukir, di pahat, dan di gambar. Maka ayat yang terdapat dalam surat al-Anโam kita temukan bahwasanya Nabi Ibrahim as. mengkritik ayahnya yang menjadikan ashnam sebagai sesembahan. Dan lafaz โ๎ฆฌ๎ฆจ๎ฆ๎ฆโ menjadikan ditinjau dari ilmu sharf dan maknanya di dalam kamus adalah sesuatu yang menunjukkan adanya usaha dan sungguh-sungguh dalam membuat nya. Maka kalau begitu ashnam adalah benda yang dibuat, diukir, digambar pada bentuk dan modelnya. Seperti itu juga yang terdapat dalam surat al-Aโraf bahwa kaum Nabi Musa menjadikan setelahnya anak lembu yang memiliki jasad dan suara, maka mereka menjadikan anak lembu sebagai shanam yang mereka melihat beberapa ayat mengenai kata Ashnam, dapat disimpulkan bahwa yang menjadi makna dasar dari kata Ashnam adalah berhala dan makna relasional dari kata tersebut adalah sebuah ukiran yang terbuat dari kayu, perak, atau tembaga. Yang memiliki bentuk manusia atau bentuk lain yang dijadikan sembahan daripada selain Allah. Dan penggunaan kata Ashnam dalam al-Qurโan sebagaimana yang telah dicantumkan diatas, bahwa kata Ashnam khusus digunakan untuk sesuatu hal yang disembah oleh umat manusia selain Allah SWT. Muhammad Daud, Op. cit., h, 322. Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 Makna Awtsan Adapun kata Awtsan disebutkan sebanyak tiga kali dalam al-Qurโan yaitu1. Surat Al-Hajj ayat 30. ๎๎๎๎พ๎๎ผ๎๎๎๎๎พ๎๎ณ๎๎๎๎๎๎ป๎๎๎ ๎๎ ๎๎บ๎ง๎๎๎๎ก๎ฆ๎ ๎๎ฉ๎ข๎๎ท๎๎๎๎ท๎๎๎ถ๎๎๎๎๎ ๎๎บ๎ ๎๎๎บ๎๎ท๎๎๎๎๎ฎ๎๎ณ๎๎ฏ๎๎๎ฆ๎ ๎๎ฆ๎๎ผ๎๎ฌ๎๎ณ๎ข๎๎ง๎๎๎ถ๎๎ฐ๎๎ ๎๎ด๎๎๎๎ ๎๎ด๎๎บ๎ฌ๎๎บ๎ ๎๎ข๎๎ท๎ ๎๎ ๎๎ค๎๎๎ฟ๎ข๎๎ ๎๎บ๎ป๎๎๎ ๎ฆ๎๎๎ถ๎๎ฐ๎๎ณ๎ ๎๎ช๎๎ด๎๎ท๎๎ข๎๎๎๎๎พ๎๎๎ฅ๎๎ฐ๎๎๎ฐ๎๎๎๎ณ๎ฆ๎๎๎พ๎๎ ๎๎บ๎ซ๎๎ฆ๎ ๎๎ฆ๎๎ผ๎๎ฌ๎๎ณ๎ฆ๎๎๎๎๎๎๎ขฌ๎๎๎๎๎ ๎ฆ๎๎๎บ๎๎ท๎๎๎๎๎ณ๎๎๎๎ณ๎ฆ Demikianlah perintah Allah dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat disisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya disisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta. 2. Surat Al-Ankabut ayat 17. ๎๎๎๎ป๎ ๎๎ ๎๎๎๎ก๎ฆ๎๎๎๎๎๎ฎ๎๎๎บ๎๎ท๎๎๎๎๎๎พ๎๎ฆ๎๎ ๎๎บ๎ซ๎๎๎บ๎ ๎๎๎๎ณ๎ฆ๎๎๎๎๎ค๎๎ข๎
๎ฐ๎๎ง๎๎ค๎๎๎๎ ๎๎ฌ๎๎ด๎๎๎ฃ๎๎๎๎
๎ขญ๎๎ขฌ๎๎๎๎ข๎๎๎๎ก๎ฆ๎๎๎๎๎๎ฎ๎๎๎บ๎๎ท๎๎๎๎๎๎พ๎๎ฆ๎๎ ๎๎บ๎ซ๎๎ข๎๎๎ถ๎๎ค๎๎๎ฆ๎ ๎๎ค๎๎บ๎ฌ๎๎บ๎ฅ๎ข๎๎ง๎๎ข๎
๎ซ๎๎ฑ๎๎ฐ๎๎๎ถ๎๎ฐ๎๎ณ๎๎๎๎ ๎๎ฐ๎๎ด๎๎๎๎ ๎๎ ๎๎ณ๎๎๎๎บ๎ซ๎๎๎พ๎๎ ๎๎ณ๎๎ค๎๎๎พ๎๎ณ๎๎ฆ๎๎๎๎๎ฐ๎๎๎ฆ๎๎๎๎๎ฝ๎๎๎พ๎๎ฆ๎๎๎ฆ๎๎๎๎๎ผ๎๎ฑ๎๎๎๎ณ๎ฆ๎๎๎๎ก๎ฆ๎๎๎พ๎๎ผ๎๎ Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu meberikan rezeki kepadamu, maka mintalah rezeki itu disisi Allah dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan. 3. Surat Al-Ankabut ayat 25. ๎๎๎ฌ๎๎ณ๎ฆ๎๎๎ฟ๎๎ ๎๎บ๎ ๎๎๎๎ฝ๎๎ข๎๎ ๎๎บ๎ป๎๎พ๎ณ๎ฆ๎๎๎จ๎ข๎๎ ๎๎๎ซ๎ฆ๎ ๎๎ฟ๎๎๎ถ๎๎ฐ๎๎ผ๎๎ ๎๎บ๎ฅ๎๎๎จ๎๎ฎ๎๎ ๎๎ท๎๎
๎ขญ๎๎ขฌ๎๎๎๎ข๎๎๎๎ก๎ฆ๎๎๎๎๎๎ฎ๎๎๎บ๎๎ท๎๎๎๎ป๎๎๎๎๎ฃ๎ฆ๎๎ข๎๎๎ถ๎๎ค๎๎๎พ๎ข๎๎ซ๎๎๎๎๎๎๎ ๎๎บ๎ฆ๎๎ฅ๎๎๎ถ๎๎ฐ๎๎๎๎ ๎๎บ๎ฅ๎๎๎๎๎จ๎๎ฐ๎๎ ๎๎๎จ๎๎ท๎ข๎๎ ๎๎
๎๎๎ ๎๎บ๎ฅ๎๎๎ถ๎๎ฐ๎๎๎๎ ๎๎บ๎ฅ๎๎๎บ๎๎ ๎๎ด๎๎บ๎ ๎๎๎๎๎บ๎ ๎๎๎๎๎๎ขญ๎๎๎บ๎๎ท๎๎๎ถ๎๎ฐ๎๎ณ๎๎ข๎๎ท๎๎๎๎๎ฐ๎ข๎๎ผ๎ณ๎ฆ๎๎๎ถ๎๎ฏ๎ฆ๎๎๎๎๎๎ท๎๎๎๎ข Dan berkata Ibrahim โSesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang diantara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian dihari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian yang lain dan sebahagian kamu melaknati sebahagian yang lain dan tempat kembalimu ialah neraka dan sekali kali tak ada bagimu para penolong. Muhammad Daud, op. cit, h, 322. Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 Awtsan menurut bahasa adalah sebuah batu yang disembah selain dari kata Watsan adalah Awtsan. Begitu juga dijelaskan dalam kitab tafsir al-Misbah bahwa Awtsan adalah berhala yang berupa batu atau yang terbuat dari kayu dan memiliki bentuk seperti manusia atau hewan yang mereka pilih atau buat untuk disembah. Kata ini lebih khusus dari kata Ashnam, karena yang ini adalah berhala yang disembah walau hanya batu yang tidak berbentuk. Masyarakat Arab pada masa jahiliyah memilih batu-batu yang mereka senangi lalu menyembahnya. Bahkan para musafir pada masa jahiliyah memilih empat batu, lalu yang terbaik mereka sembah, dan tiga lainnya mereka jadikan tumpu buat periuk mereka. Bentuk nakirah/indefinitif pada kata awtsan yang digunakan ayat ini al-An-kabut ayat 17 mengesankan keremehannya sekaligus mengisyaratkan bahwa kepercayaan tentang ketuhanan berhala-berhala itu adalah kepercayaan sesat yang tidak mendasar serta merupakan kebohongan dan pemutarbalikan dalam kitab tafsir Ath-Thabari, penakwilan kami ini sejalan dengan pendapat para ahli takwil lainnya. Dan yang berpendapat demikian adalah Muhammad bin Saโad menceritakan kepadaku, ia berkata Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata pamanku menceritakan kepadaku, ia berkata Ayahku menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari Ibnu Abbas tentang firman Allah ๎๎๎๎๎ขฌ๎๎๎๎๎ ๎ฆ๎๎๎บ๎๎ท๎๎๎๎๎ณ๎๎๎๎ณ๎ฆ๎๎ฆ๎ ๎๎ฆ๎๎ผ๎๎ฌ๎๎ณ๎ข๎๎ง โMaka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis ituโ Ia berkata โMaksudnya adalah jauhilah ketaatan terhadap syetan dalam menyembah berhala-berhala. Al-Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata Al-Hasein menceritakan kepada kami, ia berkata Hajjaj menceritakan kepadaku dari Ibnu Juraij, tentang firman Allah ๎๎๎๎๎ขฌ๎๎๎๎๎ ๎ฆ๎๎๎บ๎๎ท๎๎๎๎๎ณ๎๎๎๎ณ๎ฆ โBerhala-berhala yang najis ituโ Ia berkata maksudnya adalah menyembah dalam tafsir Jalalain disebutkan ๎๎๎๎๎ขฌ๎๎๎๎๎ ๎ฆ๎๎๎บ๎๎ท๎๎๎๎๎ณ๎๎๎๎ณ๎ฆ๎๎ฆ๎ ๎๎ฆ๎๎ผ๎๎ฌ๎๎ณ๎ข๎๎ง โMaka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis ituโ Ahmad bin Faris, Maqayiis Al-Lughah, jilid 6 ๎Ittihad Al-Kitab Al-Arab, 2002. h, 64. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jakarta Lentera Hati, 2002, h. 461. Ath-Thabari, op., cit. h, 485. Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 Huruf min ๎งฆ๎งฃdisini menunjukkan arti bayan atau keterangan, maksudnya barang yang najis itu adalah berhala-berhala. Setelah melihat beberapa ayat mengenai kata Awtsan, dapat disimpulkan bahwa yang menjadi makna dasar dari kata Awtsanadalah berhala dan makna relasional nya adalah sebuah batu yang disembah selain penggunaan kata Awtsan dalam al-Qurโan sebagaimana yang telah dicantumkan diatas, bahwa kata Awtsan khusus digunakan untuk batu atau kayu sekalipun tidak berbentuk yang disembah oleh umat manusia selain Allah SWT. Pemakaian kata awtsandalam hal pembuatan dan selainnya, tidaklah diharamkan dalam syariโat. Akan tetapi dalam hal penyembahan ia diperintahkan untuk dijauhi. Abu Hayyan telah menetapkan dalam kitab tafsirnya bahwa awtsan adalah sebuah batu yang tidak di ukir atas bentuk tertentu. Kesimpulan dari pembahasan yang lalu, bahwa diantara kata ashnam dan awtsanmemiliki maksud yang berdekatan maknanya.Persamaan โข Keduanya memiliki wujud material. โข Keduanya dijadikan sebagai Tuhan yang disembah selain Allah. Perbedaan โข Bahwa ashnam mesti dibentuk lagi diukir, mesti dibuat dari kayu, tembaga, perak, dan emas. โข Adapun awtsan semata-mata dibuat dari batu, tidak ada bentuk, tidak di ukir. Inilah perbedaan diantara ashnam dan awtsan. Inilah pendapat yang perpegangi menurut kebanyakan mufassir, ulama bahasa, mereka adalah Ibnu Arafah, Ragib Al-Ashfahani, Jasshas, Syafiโi, dan lain-lain. Setelah melihat pengertian dari ketiga istilah dapat dipahami bahwa ada hubungan antara ketiga istilah tersebut. Ashnam dan Awtsan termasuk ke dalam bagian tamatsil dari segi bahan buatannya. Perbedaannya terletak pada ketika tamatsil itu di sembah atau tidak. Jika ia disembah dan ia berbentuk tubuh manusia, maka ia dinamakan dengan ashnam. Jika yang disembah berbentuk batu, maka dinamakan dengan awtsan. Bentuk Tamatsil Pada Masa Nabi Sulaiman Bentuk tamatsil yang ada pada masa Nabi Sulaiman ada beberapa versi, yaitu Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin Asy-Suyuthi, Tafsir Jalalain, alih bahasa Bahrun Abubakar, Bandung Sinar Baru Algensindo, 2008, cetakan kesepuluh, h, 167. Muhammad Daud, h, 323. Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 a Berbentuk malaikat dan para Nabi yang terbiasa dalam beribadah supaya orang-orang melihat akannya, lalu mereka beribadah seperti ibadah mereka. b Berbentuk burung yang terletak di atas kursi Sulaiman. c Berbentuk para Nabi dan ulama yang dibuat didalam mesjid supaya bisa dilihat orang, sehingga mereka semakin bertambah semangat dalam beribadah. Hukum Tamatsil a. Boleh pada masa Nabi Sulaiman, kemudian dimansukhkan menjadi haram hukumnya pada syariat Nabi Muhammad. Dikarenakan pada masa itu tamatsil dijadikan sesembahan, maka tindakan yang lebih baik adalah menghabisi patung-patung. Illat dan alasan penasakhan adalah sebagai bentuk syadz zaraโi menutup celah yang bisa menjadi pintu masuk perkara yang terlarang serta memerangi kebiasaan masyarakat Arab waktu itu dalam menyembah berhala, arca, dan sejalan dengan pendapat Wahbah Zuhaili dalam kitab tafsirnya. Menurut Imam al-Qurtubi Allah menasakh apa yang dibolehkan sebelumnya. Rahasianya, karena ketika Rasulullah SAW diutus, patung-patung dijadikan sesembahan. Maka tindakan yang lebih baik adalah menghabisi patung-patung. Ulama dari mazhab Hanafiyah, Syafiโiyah dan Hanbali berpendapat akan haramnya membuat suroh ๎ฆ๎ฆญ๎งฎ๎ฆป baik itu gambar tiga dimensi yaitu patung, begitu pula gambar selain itu. Dalil-dalil larangan tersebut adalah sebagai berikut ๎๎๎ซ๎๎๎๎๎ก๎ฆ๎๎๎พ๎ ๎๎๎๎ฐ๎๎๎ฟ๎๎พ๎ณ๎๎๎๎๎ถ๎ด๎๎๎๎พ๎ ๎ด๎๎๎กฆ๎๎ ๎ด๎๎ณ๎๎๎๎ข๎๎ธ๎๎ด๎๎บ๎ง๎๎๎๎๎ฒ๎ ๎๎ฏ๎ข๎๎๎ค๎๎ข๎๎ ๎ ๎๎ง๎ ๎๎๎๎๎จ๎๎ ๎๎ ๎๎๎๎ ๎๎ด๎๎๎ ๎๎๎๎๎ฟ๎ฆ๎๎๎๎ฌ๎๎ฅ๎๎๎ฉ๎๎๎๎๎๎๎๎พ๎๎ซ๎๎๎๎๎๎๎จ๎๎๎๎๎บ๎๎ท๎๎๎๎ก๎ฆ๎๎๎พ๎ ๎๎๎๎ฐ๎๎๎ฝ๎ก๎๎ฐ๎๎ณ๎๎๎ถ๎ด๎๎๎๎พ๎ ๎ด๎๎๎กฆ๎๎ ๎ด๎๎๎ณ๎๎๎๎ ๎๎๎บ๎ ๎๎๎๎ณ๎ฆ๎๎๎จ๎๎ท๎ข๎๎ ๎๎ฌ๎๎ณ๎ฆ๎๎๎ฟ๎๎ ๎๎บ๎ ๎๎
๎ขช๎ฆ๎๎๎๎๎๎๎ฒ๎ข๎๎ผ๎ณ๎ฆ๎๎๎พ๎๎๎๎ข๎๎พ๎๎๎พ๎ข๎๎ซ๎๎๎๎๎พ๎๎ฐ๎๎ฌ๎๎ฟ๎๎๎ช๎๎ด๎๎๎๎๎๎๎ ๎๎ฟ๎ข๎๎๎๎๎๎๎๎ซ๎๎ฎ๎ข๎๎๎๎๎๎๎๎๎ข๎๎
๎จ๎๎ฎ๎ข๎๎๎๎๎๎๎ฝ๎ข๎๎ผ๎๎ด๎๎ ๎๎ด๎๎ง๎๎๎ช๎๎ณ๎ข๎๎ซ๎๎๎๎ฎ๎๎๎๎ก๎ฆ โPernah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam datang dari suatu safar dan aku ketika itu menutupi diri dengan kain tipis milikku di atas lubang angin pada tembok lalu di kain tersebut terdapat gambar -gambar. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat hal itu, beliau merobeknya dan bersabda, โSesungguhnya orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah mereka yang membuat sesuatu yang menandingi ciptaan Allah.โ Aisyah mengatakan, โAkhirnya kami menjadikan kain tersebut menjadi satu atau dua bantal.โ HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107. Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 Dalam riwayat lain disebutkan, ๎ข๎๎ฌ๎๎บ๎ ๎๎บ๎ง๎๎๎๎๎๎ ๎๎ฅ๎๎๎๎ ๎๎บ๎ ๎๎๎จ๎๎ท๎ข๎๎ ๎๎ฌ๎๎ณ๎ฆ๎๎๎ฟ๎๎ ๎๎บ๎ ๎๎๎ฐ๎๎ ๎๎๎ณ๎ฆ๎๎๎ฝ๎๎๎๎ฟ๎๎๎ง๎ข๎๎ธ๎๎๎๎ข๎๎๎๎๎ค๎๎๎ถ๎๎ฌ๎๎ฌ๎๎ด๎๎ป๎๎ข๎๎ท๎๎ฆ๎ ๎๎ ๎๎ท๎๎ข๎๎๎ถ๎๎๎ฎ๎๎๎พ โSesungguhnya pembuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat. Dikatakan pada mereka, โHidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan buat.โ HR. Bukhari no. 2105 dan Muslim no. 2107. Dalam riwayat lain disebutkan, ๎๎๎๎๎๎ฐ๎๎๎ ๎๎๎๎ธ๎๎ณ๎ฆ๎๎๎จ๎๎ท๎ข๎๎ ๎๎ฌ๎๎ณ๎ฆ๎๎๎ฟ๎๎ ๎๎บ๎ ๎๎๎๎ก๎ฆ๎๎๎พ๎๎ผ๎๎๎๎
๎ขช๎ฆ๎๎๎๎๎๎๎ฒ๎ข๎๎ผ๎ณ๎ฆ๎๎๎พ๎๎๎๎ข๎๎๎๎๎ค โSesungguhnya orang yang paling berat siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah al mushowwirun pembuat gambar.โ HR. Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109. Shuwar gambar dibagi menjadi dua macam yaitu bentuk 2 dimensi dan bentuk 3 dimensi patung. Yang kita bahas adalah jenis yang terakhir. Mengenai hukum membuat bentuk tiga dimensi patung, mayoritas ulama selain Malikiyah mengharamkannya karena berdalil dengan dalil-dalil di atas. Dikecualikan untuk mainan anak-anak, sesuatu yang dianggap remeh dihinakan, begitu pula sesuatu yang sifatnya temporer tidak permanen seperti jika dibuat dari manis-manisan dan adonan roti. Alasan diharamkannya membuat gambar dan patung 1 Menandingi Allah dalam mencipta. 2 Dapat menjadi perantara untuk berlebih-lebihan terhadap selain Allah dengan mengagungkannya. Lebih-lebih patungnya adalah patung orang shalih. 3 Menyerupai orang musyrik dalam membuat patung walau patung tersebut tidak disembah, jika sampai disembah maka lebih jelas lagi terlarangnya. Yang termasuk dalam larangan adalah untuk patung yang memiliki ruh yaitu manusia dan hewan, tidak pada Boleh selama ia tidak disembah atau dijadikan lambang-lambang keagamaan yang disucikan. Ini sejalan dengan pendapat Quraish Shihab dan Yusuf al-Qardhawiy. Dalam sebuah video Quraish Shihab, beliau menyebutkan bahwa patung masa lalu ada perbedaannya dengan patung masa kini. Memang ada hadits-hadits Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 yang melarang menggambar dan mematung, apalagi makhluk hidup. Tetapi harus kita lihat terlebih dahulu. Karena ada prinsip dalam ajaran agama yaitu Pertama hukum itu bisa jadi berkaitan dengan ibadah bisa jadi berkaitan dengan non ibadah. Kalau yang berkaitan dengan ibadah tidak bisa diubah sama sekali, tidak bisa dilakukan kecuali kalau ada perintah. Kalau non ibadah boleh dilakukan selama tidak ada larangan. Non ibadah juga ditinjau mengapa ia dilarang? Kalau larangan itu masih ada sebabnya maka tetap berlaku, kalau sudah tidak ada sebabnya maka bisa berubah hukumnya. Patung, kenapa sempat dilarang? Dibahas oleh ulama-ulama bahwa karena dulu patung itu disembah, dijadikan tempat pemujaan dan lain-lain sebagainya. Kalau sekarang apabila itu dibuat untuk tujuan menyembah atau disembah orang, maka tetap tidak boleh, tetapi kalau tujuannya untuk seni, untuk mengingatkan kita akan jasa-jasa seseorang, tidak disembah maka itu boleh. Kita lihat di Jakarta ada patung Jendral Sudirman, membantu kita mengingatkan bahwa tokoh ini orang yang berjasa, orang yang wajar ditiru kepahlawanannya dan jasa-jasanya. Tetapi apabila patung-patung yang dibuat adalah patung yang memamerkan aurat tetap tidak boleh karena tujuannya bertentangan dengan nilai agama dan hukum itu tergantung dengan illat sebabnya. Jika illat tetap ada maka hukum tetap ada. Sebagaimana dalam sebuah kaidah ushul fiqh dikatakan ๎๎ข๎ท๎พ๎๎๎๎๎ฆ๎ฎ๎ ๎ณ๎๎๎จ๎ด๎ ๎ณ๎ฆ๎๎๎ท๎๎ฐ๎๎พ๎ ๎๎ถ๎ฐ๎ซ๎ฆ Artinya โHukum itu berputar bersama illatnya dalam mewujudkan dan meniadakan hukum.โ Kemudian, jika sebab pelarangan tersebut masih ada sebabnya maka hukum tetap berlaku, kalau sudah tidak ada sebabnya, maka bisa berubah hukumnya. Menurut Yusuf al-Qardhawi, kalau lukisan seni itu berbentuk sesuatu yang disembah selain Allah, seperti gambar al-Masih bagi orang-orang Kristen atau sapi bagi orang-orang Hindu dan sebagainya, maka bagi si pelukisnya untuk tujuan-tujuan diatas tidak lain dia adalah menyiarkan kekufuran dan kesesatan. Dalam hal ini berlakulah baginya ancaman Nabi yang begitu keras Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 โSesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat ialah orang-orang yang menggambar.โ Riwayat Muslim. Imam Thabari berkata, โYang dimaksud dalam hadits ini yaitu orang-orang yang menggambar sesuatu yang disembah selain Allah, sedangkan dia mengetahui dan sengaja. Orang yang berbuat demikian adalah kufur. Tetapi kalau tidak ada maksud seperti diatas, maka ia tergolong orang yang berdosa sebab menggambar sajaโ. Orang yang menggantungkan gambar-gambar tersebut untuk dikuduskan. Perbuatan seperti ini tidak pantas dilakukan oleh seorang Muslim, kecuali kalau agama Islam itu dibuang dibelakang yang lebih mendekati persoalan ini ialah orang yang melukis sesuatu yang tidak biasa disembah, tetapi dengan maksud untuk menandingi ciptaan dia beranggapan, bahwa dia dapat membuat dan menciptakan jenis terbaru seperti ciptaan Allah. Orang yang melukis dengan tujuan seperti itu jelas telah keluar dari agama tauhid. Terhadap orang ini berlakulah hadits Nabi yang mengatakan โSesungguhnya orang yang paling berat siksaannya ialah orang-orang yang menandingi ciptaan Allahโ. Riwayat Muslim. Persoalan ini tergantung pada niat si pelukisnya itu sendiri. Kebanyakan gambar-gambar/lukisan-lukisan di zaman Nabi dan sesudahnya, adalah lukisan-lukisan yang disucikan dan di pada umumnya lukisan-lukisan itu adalah buatan Rum dan Parsi Nasrani dan Majusi.Oleh karena itu tidak dapat melepaskan pengaruhnya terhadap pengkultusan kepada pemimpin-pemimpin agama dan Negara. Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Abu Dhuha pernah berkata sebagai berikut Saya dan Masruq berada di sebuah rumah yang disitu ada beberapa patung. Kemudian Masruq berkata kepadaku, apakah ini patung kaisar? Saya jawab Tidak! Ini adalah patung Maryam. Masruq bertanya demikian, karena menurut anggapannya, bahwa lukisan itu buatan majusi dimana mereka biasa melukis raja-raja mereka di bejana-bejana. Tetapi akhirnya ketahuan, bahwa patung tersebut adalah buatan orang Nasrani. Dalam kisah ini Masruq kemudian berkata Saya pernah mendengar Ibnu Masโud menceritakan apa yang ia dengar dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda โSesungguhnya orang yang paling berat siksaannya disisi Allah adalah para pelukis.โ Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 Selain gambar-gambar diatas, yaitu misalnya dia menggambar/melukis makhluk-makhluk yang tidak bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, laut, gunung, matahari, bulan, bintang dan hal ini sedikitpun tidak berdosa dan tidak ada sekali dikalangan para gambar-gambar yang bernyawa kalau tidak ada unsur-unsur larangan seperti tersebut diatas, yaitu bukan untuk disucikan dan di agung-agungkan dan bukan pula untuk maksud menyaingi ciptaan Allah, maka menurut hemat saya tidak Muhammad Ath-Thahir bin Asyur ketika menafsirkan ayat-ayat yang berbicara tentang patung-patung Nabi Sulaiman menegaskan, bahwa Islam mengharamkan patung karena agama ini sangat tegas dalam memberantas segala bentuk kemusyrikan yang demikian mendarah daging dalam jiwa orang-orang Arab serta orang-orang selain mereka ketika itu. Sebagian besar berhala adalah patung-patung, maka Islam mengharamkannya karena alasan tersebut. Bukan karena dalam patung terdapat keburukan, tetapi karena patung itu dijadikan sarana bagi kemusyrikan. Atas dasar inilah, hendaknya dipahami hadits-hadits yang melarang menggambar atau melukis dan memahat makhluk-makhluk hidup. Apabila seni membawa manfaat bagi manusia, memperindah hidup dan hiasannya yang dibenarkan agama, mengabadikan nilai-nilai luhur dan menyucikannya, serta mengembangkan dan memperhalus rasa keindahan dalam jiwa manusia, maka sunnah Nabi mendukung, tidak menentangnya. Karena ketika itu ia telah menjadi salah satu nikmat Allah yang dilimpahkan kepada manusia. Demikian Muhammad Imarah dalam bukunya Maalim Al-Manhaj Al-Islami yang penerbitannya di sponsori oleh Dewan Tertinggi Dakwah Islam, Al-Azhar bekerja sama dengan Al-Mahad Al-Alami lil Fikr Al-Islami International Institute for Islamic Thought.KESIMPULAN Hakikat dari tamatsil adalah sesuatu yang terbuat dari kayu, batu, tembaga, kuningan, kaca, dan tanah liat yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mirip dengan bentuk aslinya. Pada zaman Nabi Sulaiman tamatsil itu adalah patung yang dibuat berbentuk malaikat ataupun orang-orang shalih dengan tujuan supaya orang-orang yang melihat akannya lalu mereka beribadah seperti ibadah mereka. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qurโan, Bandung Mizan, 1996. h, 386. Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 Buya Hamka mengatakan bahwa tamatsil adalah seni lukisan yang berbentuk patung binatang, orang, dan pohon-pohon sebagai hiasan. Jika dilihat pada masa sekarang tamatsil itu bisa berbentuk replika, mainan kunci, mainan anak-anak yang berbentuk boneka, patung-patung bersejarah, dan lain-lain. Mufassir berbeda pendapat masalah hukum tamatsil. Ulama yang membolehkannya menyatakan bahwa tamatsil itu diharamkan jika ia disembah. Karena setelah dilihat informasi sebelumnya bahwa masyarakat Arab pada masa itu memiliki kebiasaan menyembah patung-patung. Dan hukum itu tergantung illat nya, jika hilang illat maka hilanglah hukum. Ini sejalan dengan pendapat Quraish Shihab. Bahkan Buya Hamka mengatakan bahwa itu termasuk kemajuan seni lukis pada masa Nabi Sulaiman. Ulama yang mengharamkan nya menyatakan bahwa untuk mencelah masuk perkara yang terlarang, maksudnya penyembahan patung maka tindakan yang lebih tepat adalah menghabisi patung tersebut. Ini sejalan dengan pendapat Imam al-Qurthubi dan Wahbah Zuhaili. DAFTAR PUSTAKA Al-Ashfahani, Ar-Raghib. 2017. Almufradat Fii Ghariib Al-Qurโan, alih bahasa Ahmad Zaini Dahlan. Depok Pustaka Khazanah Fawaโid Al-Bukhari. 1987. Jamiโ al-Shahih al-Mukhtashar. Daar Ibnu Katsir Beirut. Juz 5 Al-Mahalli, Jalaluddin dan Jalaluddin Asy-Suyuthi, 2008. Tafsir Jalalain, alih bahasa Bahrun Abubakar. Bandung Sinar Baru Algensindo. cetakan kesepuluh Al-Munziri. 2016. Mukhtasar Shahih Muslim, alih bahasa, Rohmad Arbi Nur Shoddiq, Arif, Mahmudi, Nila Noer Fajriah. Jakarta Ummul Qura Al-Qurthubi. 2009. Tafsir Al-Qurthubi, terj. Fathurrahman, Ahmad Hotib, Dudi Rasyadi. Jakarta Pustaka Azzam Az-Zuhaili, Wahbah. 2013. Tafsir al-Munir, alih bahasa Abdul Hayyie al-Kattani, dkk, Cet. 1. Jakarta Gema Insani Bakir, Moh, โKonsep Maqasid al-Qurโan Perspektif Badiโ al-Zaman Saโid Nursi Upaya Memahami Makna al-Qurโan Sesuai dengan Tujuannyaโ, Jurnal Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Vol. 1 01 Agustus 2015 Daud, Muhammad 2008. Muโjam Al-Furuq Al-Dilaliyah. Kairo Daar Gharib Departemen Agama RI. 2010. Al-Qurโan Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka. Jakarta Kalim Faris, Ahmad bin2002. Maqayiis Al-Lughah, jilid 6. Ittihad Al-Kitab Al-Arab Dilla Syafrina, dkk Tamatsil Dalam Al-Qurโan Rusydiah Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 1, Juni 2022 Guru Pendidikan, โSeni Rupa Murni dan Terapanโ, dikutip dari pada hari Rabu tanggal 02 Oktober 2019 Hanifa, Umi. 2018. Seni Rupa dalam Al-Qurโan Kajian Tematik. Yogyakarta Skripsi Harun, Salman. 2017. Kaidah-Kaidah Tafsir. Jakarta QAF Hude, Darwis dkk. 2002. Cakrawala Ilmu dalam Al-Qurโan. Jakarta Pustaka Firdaus Manzur, Ibnu. 1119. Lisanul Arab. Jilid 6. Daar Al-Maโarif Kairo Ruqaith, Hamad Hasan. 2004. Problematika Kontemporer dalam Tinjauan Islam. Jakarta Pustaka Azzam Shihab, M. Quraish. 1996. Wawasan Al-Qurโan. Bandung Mizan Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Pesan dan Keserasian Al-Qurโan. Jakarta Lentera Hati ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Fii Ghariib Al-Qur'an, alih bahasa Ahmad Zaini DahlanAl-AshfahaniAr-RaghibAl-Ashfahani, Ar-Raghib. 2017. Almufradat Fii Ghariib Al-Qur'an, alih bahasa Ahmad Zaini Dahlan. Depok Pustaka Khazanah Fawa'idJami' al-Shahih al-MukhtasharAl-BukhariAl-Bukhari. 1987. Jami' al-Shahih al-Mukhtashar. Daar Ibnu Katsir Beirut. Juz 5Al-MahalliAl-Mahalli, Jalaluddin dan Jalaluddin Asy-Suyuthi, 2008. Tafsir Jalalain, alih bahasa Bahrun Abubakar. Bandung Sinar Baru Algensindo. cetakan kesepuluhAl-MunziriAl-Munziri. 2016. Mukhtasar Shahih Muslim, alih bahasa, Rohmad Arbi Nur Shoddiq, Arif, Mahmudi, Nila Noer Fajriah. Jakarta Ummul Qura Al-Qurthubi. 2009. Tafsir Al-Qurthubi, terj. Fathurrahman, Ahmad Hotib, Dudi Rasyadi. Jakarta Pustaka Azzam Az-Zuhaili, Wahbah. 2013. Tafsir al-Munir, alih bahasa Abdul Hayyie al-Kattani, dkk, Cet. 1. Jakarta Gema Insani Bakir, Moh, "Konsep Maqasid al-Qur'an Perspektif Badi' al-Zaman Sa'id Nursi Upaya Memahami Makna al-Qur'an Sesuai dengan Tujuannya", Jurnal Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Vol. 1 01 Agustus 2015Cakrawala Ilmu dalam Al-Qur'an. Jakarta Pustaka Firdaus Manzur, Ibnu. 1119. Lisanul Arab. Jilid 6. Daar Al-Ma'arif Kairo Ruqaith, Hamad HasanUmi HanifaHanifa, Umi. 2018. Seni Rupa dalam Al-Qur'an Kajian Tematik. Yogyakarta Skripsi Harun, Salman. 2017. Kaidah-Kaidah Tafsir. Jakarta QAF Hude, Darwis dkk. 2002. Cakrawala Ilmu dalam Al-Qur'an. Jakarta Pustaka Firdaus Manzur, Ibnu. 1119. Lisanul Arab. Jilid 6. Daar Al-Ma'arif Kairo Ruqaith, Hamad Hasan. 2004. Problematika Kontemporer dalam Tinjauan Islam. Jakarta Pustaka Azzam Shihab, M. Quraish. 1996. Wawasan Al-Qur'an. Bandung Mizan Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Pesan dan Keserasian Al-Qur'an. Jakarta Lentera Hati
Islam melalui sumbernya utama Al-Qurโan sangat menghargai seni. Al-Qurโan menuntun manusia mengenal Allah mengajak untuk memandang keseluruhan jagad raya yang diciptakan-Nya dengan serasi dan indah. Menikmati keindahan jagad raya ini, kita bisa membuktikan bahwa Allah sangat mencintai keindahan, menciptakan alam raya ini dengan indah tanpa kurang apapun. Ini lah bukti kebesaran Allah yang patut kita rasakan dan kita nikmati. Seni yang islami adalah seni yang menggambarkan wujud dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan fitrah. Seni Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan Islam tentang alam, hidup dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan. Keindahan adalah salah satu sebab tumbuh dan kokohnya keimanan, sehingga keindahan itu menjadi sarana mencapai kebahagiaan dalam kehidupan. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Islam Futura, Vol. VI, No. 2, Tahun 2007 Raina Wildan SENI DALAM PERSPEKTIF ISLAM Oleh Raina Wildan Dosen Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Abstrak Islam melalui sumbernya utama Al-Qurโan sangat menghargai seni. Al-Qurโan menuntun manusia mengenal Allah mengajak untuk memandang keseluruhan jagad raya yang diciptakan-Nya dengan serasi dan indah. Menikmati keindahan jagad raya ini, kita bisa membuktikan bahwa Allah sangat mencintai keindahan, menciptakan alam raya ini dengan indah tanpa kurang apapun. Ini lah bukti kebesaran Allah yang patut kita rasakan dan kita nikmati. Seni yang islami adalah seni yang menggambarkan wujud dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan fitrah. Seni Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan Islam tentang alam, hidup dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan. Keindahan adalah salah satu sebab tumbuh dan kokohnya keimanan, sehingga keindahan itu menjadi sarana mencapai kebahagiaan dalam kehidupan. Kata Kunci Islam, Seni Pada era modern sekarang jadwal hidup manusia sehari-hari diintervensi dan dipadati oleh program-program hiburan yang tidak lain adalah berupa seni yang merupakan hasil karya kreativitas manusia, seperti musik, drama, tari, dan lain-lain. Hasil karya ini menjadi dunia industri hiburan lewat berbagai media, seperti radio, televisi, surat kabar dan majalah tanpa mengenal batas-batas negara dan budaya, sedangkan agama merumuskannya dengan istilah halal dan haram terhadap salah satu industri hiburan. Seperti pada tahun 2006 di Indonesia, terjadinya aksi-aksi pornografi dan porno aksi yang dipandang sebuah seni, seperti pornografi yang melukiskan lukisan telanjang aktor Anjasmara, kemudian aksi Inul Daratisda dan artis-artis dangdut yang mengandalkan gaya mereka sebagai seni, dimana Islam Futura, Vol. VI, No. 2, Tahun 2007 Raina Wildan sebagian seniman menganggap bahwa itu sebuah hasil karya seni. Di dalam Islam itu adalah hal yang sangat melanggar agama yang sifatnya haram dengan memperlihatkan anggota tubuh kepada hal layak. Islam memandang seni sebagai suatu hal yang bisa diukur halal, haram ataupun mubah. Bagi mereka yang memandang seni dari sisi ideologis, mereka akan memandang seni yang dihasilkan dari hasil karya manusia itu adalah haram untuk dinikmati dan disajikan ke masyarakat, karena menurut mereka semua itu dianggap mengganggu kekhusuโan beribadah, dimana secara psikologis akan menjadikan seseorang cepat frustasi karena dunia sekitarnya telah didominasi oleh industri hiburan. Hal tersebut dapat diatasi dengan cara melekatkan pelanggaran-pelanggaran seketat-ketatnya atau mematikan TV dan tidak memperkenalkan industri hiburan beroperasi pada masyarakat. Contoh yang pada kita lihat seperti yang terjadi di negara Iran. Dimana mereka mengambil kebijakan menurunkan parabola dari rumah-rumah penduduk, mereka hanya diperbolehkan menonton siaran nasional yang tak lain hanya menyiarkan berita dan kultum-kultum mereka yang mengatakan halal adalah tipe pemikiran dan jalan hidup yang bersifat materialistik, dimana ia bisa dengan mudah terbawa oleh hangar bingar dunia hiburan dan melupakan apa sesungguhnya esensi dari hiburan dan kesenian itu sendiri. Dan sebagian mereka mengatakan mubah yaitu mereka yang bersikap hati-hati dengan apa yang mereka nikmati dari seni tersebut. Islam melalui Al-Qurโan sangat menghargai seni. Allah SWT mengajak umatnya untuk memandang seluruh alam jagad raya ini yang telah diciptakan dengan serasi dan indah. Seperti dalam Surat Al-Qaf ayat 6yang artinya โMaka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpunโ. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan alam jagad raya ini sebagai hiasan yang indah untuk dapat dinikmati oleh umatnya. Manusia memandangnya untuk dinikmati dan melukiskan keindahannya sesuai dengan subjektivitas perasaannya masing-masing. Mengabaikan sisi keindahan natural hasil ciptaan Allah berarti mengabaikan salah M. Quraisy Shihab Dkk, Islam dan Kesenian, Jakarta Majelis Kebudayaan Muhammadiyah Universitas Ahmad Dahlah Lembaga Litbang PP Muhammadiyah, 1995, hal. 185 Islam Futura, Vol. VI, No. 2, Tahun 2007 Raina Wildan satu sisi dari bukti kebesaran Allah dan bagi mereka yang menikmatinya mereka mempercayai bukti kebesaran Allah Swt. Salah satu tokoh filsuf barat Immanuel Kant mengatakan bahwa bukti tentang wujud Tuhan terdapat dalam rasa manusia bukan pada akalnya, jadi jelas kita lihat bahwa wujud Tuhan itu dapat kita rasakan dengan kekaguman kita akan wujud Tuhan dari hasil penciptaan-Nya. Definisi Seni Seni yaitu penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar seni suara, penglihatan seni lukis, atau dilahirkan dengan perantaraan gerak seni tari, drama. Seni merupakan wujud yang terindra, dimana seni adalah sebuah benda atau artefak yang dapat dirasa, dilihat dan didengar, seperti seni tari, seni musik dan seni yang lain. Seni yang didengar adalah bidang seni yang menggunakan suara vokal maupun instrumental sebagai medium pengutaraan, baik dengan alat-alat tunggal biola, piano dan lain-lain maupun dengan alat majemuk seperti orkes simponi, band, juga lirik puisi berirama atau prosa yang tidak berirama. Seni yang dilihat seperti seni lukis adalah bidang seni yang yang menggunakan alat seperti kanvas, beragam warna-warni dan memiliki objek tertentu untuk di lukis. Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah Swt kepada seluruh manusia yang bersumber dari Al-Qurโan dan Sunnah. Islam adalah agama yang nyata dan sesuai dengan fitrah manusia yang memilki cita rasa, kehendak, hawa nafsu, sifat, perasaan dan akal pikiran. Dalam jiwa, perasaan, nurani dan keinginan manusia terbenam rasa suka akan keindahan, yang mana keindahan tersebut adalah seni. Keindahan disini adalah sesuatu yang dapat menggeraka jiwa, kemesraan, dapat menimbulkan keharuan, kesenangan bahkan juga bisa menimbulkan kebencian, dendam dan lain-lain sebagainya. Van Hoeve, Ensiklopedi Indonesia, Jakarta PT. Ikhtiar Baru, hal. 3080 - 3081 Islam Futura, Vol. VI, No. 2, Tahun 2007 Raina Wildan Di dalam Islam, seni adalah penggerak nalar yang bisa menjangkau lebih jauh apa yang berada di balik materi. Setiap manusia berhak menggeluarkan kreativitas mereka seperti seni dalam membaca Al-Qurโan, seni kaligrafi dan lain-lain. Seni Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan Islam tentang alam, hidup dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan. Pandangan Islam Terhadap Seni Keindahan itu sebahagian dari seni. Ini bermakna Islam tidak menolak kesenian. Al-Quran sendiri menerima kesenian manusia kepada keindahan dan kesenian sebagai salah satu fitrah manusia semulajadi anugerah Allah kepada manusia. Seni membawa makna yang halus, indah dan permai. Dari segi istilah, seni adalah sesuatu yang halus dan indah dan menyenangkan hati serta perasaan manusia. Konsep kesenian mengikut perspektif Islam ialah membimbing manusia ke arah konsep tauhid dan pengabdian diri kepada Allah. Seni dibentuk untuk melahirkan manusia yang benar-benar baik dan beradab. Motif seni bertuju kepada kebaikan dan berakhlak. Selain itu, seni juga seharusnya lahir dari satu proses pendidikan bersifat positif dan tidak lari dari batas-batas syariat. Seni Islam ialah seni yang bertitik tolak dari akidah Islam dan berpegang kepada doktrin tauhid yaitu pengesaan Allah dan seterusnya direalisasikan dalam karya-karya seni. Ia tidak bertolak dari akidah, syarak dan akhlak. Perbedaan di antara seni Islam dengan seni yang lain ialah niat atau tujuan dan nilai akhlak yang terkandung di dalam sesuatu hasil seni itu. Ini berbeda dengan keseniaan barat yang sering mengenepikan persoalan akhlak dan kebenaran. Tujuan seni Islam ialah untuk Allah karena ia memberi kesejahteraan kepada manusia. Dengan ini, seni Islam bukanlah seni untuk seni dan bukan seni untuk sesuatu tetapi sekiranya pembentukan seni itu untuk tujuan kemasyarakatan yang mulia, itu adalah bersesuaian dengan seni Islam. Kesenian Islam dicetuskan dengan niat untuk mendapat keredaan Allah sedangkan kesenian yang tidak Thoriq, Beda Seni di Mata Barat dan Islam, Islam Futura, Vol. VI, No. 2, Tahun 2007 Raina Wildan berbentuk Islam diciptakan untuk tujuan takbur, riak, menaikkan nafsu syahwat, merusakkan nilai syarak dan akhlak. Karya seni dikehendaki mengandungi nilai-nilai murni yang melambangkan akhlak, atau paling tidak bersifat natural yaitu bebas daripada sifat negatif. Jika sekiranya terdapat nilai-nilai negatif walaupun yang menciptakannya itu beragama Islam, maka ia terkeluar daripada kategori seni Islam. Berbagai gambaran Al-Qurโan yang menceritakan begitu banyak keindahan, seperti surga, istana dan bangunan-bangunan keagamaan kuno lainnya telah memberi inspirasi bagi para kreator untuk mewujudkannya dalam dunia kekinian saat itu. Istana Nabi Sulaiman as, mengilhami lahirnya berbagai tempat para khalifah atau pemerintahan muslim membentuk pusat kewibawaan, istana dengan berbagai โwujud fasilitas ruangโ di atas kebiasaan rakyat biasa. Asma-asma Allah SWT, seperti al-Jamiil secara theologis sangat membenarkan para kreator seni untuk memanifestasikannya dalam banyak hal. Seni adalah sebahagian daripada kebudayaan. Din al-Islam meliputi agama kebudayaan, maka dengan sendirinya kesenian merupakan sebahagian din al-Islam. Ia juga diturunkan untuk menjawab fitrah, naluri atau keperluan asasi manusia yang mengarah kepada keselamatan dan kesenangan. Firman Allah yang artinya โ Wahai anak-anak Adam, pakailah perhiasan kamu ketika waktu sembahyang. Makanlah dan minumlah dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak mengasih orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah โsiapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan rezeki yang baik.โ al-Aโraf, ayat 31-32.Namun pada sisi yang lain, berbagai larangan Nabi SAW dan para ulama mereka untuk melukis dan menggambar mahluk hidup yang bernyawa/bersyahwat dalam mewujudkan corak keindangan ruangan meskipun hal ini tidak ditemukan teks-nya secara langsung dalam Al-Qurโan, kegiatan mereka dalam mewujudkan gagasan keindahan, tak pernah kehilangan arah. Kreasi dan potensi seni mereka, kemudian dialihkannya pada berbagai bentuk kaligrafi Islam, dengan pola dan karaktersitik yang indah dan rumit. Mereka membentuk corak ragam hias ruangan, benda-benda antik seperti gelas atau guci, karpet, dan www. minda-madani Islam Futura, Vol. VI, No. 2, Tahun 2007 Raina Wildan sebagainya dengan berbagai ornamen bunga-bungaan atau tumbuh-timbuhan yang dianggap bukan sejenis hewan atau manusia. Allah Swt menciptakan manusia dengan memberikan akal yang dapat menciptakan sesuatu yang bisa disebut dengan seni atau budaya. Manusia juga diberikan rasa atau perasaan untuk menghayati dan merasakan sesuatu. Akal manusia memiliki daya berpikir dan perasaan, dengan akal manusia membentuk pengetahuan dengan konsep. Manusia juga diciptakan dengan anggota tubuh yang lengkap, dimana akal dan anggota tubuh bisa menghasilkan bentuk-bentuk yang menyenangkan yang bersifat estetika yaitu seni. Dalam seni, keindahan merupakan unsur penting, sehingga dalam Islam nilai keindahan merupakan nilai yang sangat penting yang sejajar dengan nilai kebenaran dan kebaikan. Alam yang diciptakan Allah adalah suatu keindahan seperti langit yang dihiasi bintang-bintang adalah suatu penciptaan Tuhan yang dapat dinikmati oleh manusia sebagai suatu keindahan. Allah Swt meyakinkan manusia tentang ajarannya dengan menyentuh seluruh totalitas manusia, termasuk menyentuh hati mereka melalui seni yang ditampilkan di dalam Al-Qurโan yaitu melaui kisah-kisah nyata dan simbolik yang dipadu oleh imajinasi melalui gambar-gambar konkrit. Di dalam Islam, prinsip dari seni adalah ketauhidan, kepatuhan dan keindahan. Syeikh Yusuf Qardhawi telah menjelaskan sikap Islam terhadap seni. Jika ruh seni adalah perasaan terhadap keindahan maka Al Qurโan sendiri telah menyebutkan dalam surat As-Sajadah ayat 7 yang artinya โYang membuat segala sesuatu, yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai menciptakan manusia dari tanahโ.Rasulullah saw. juga telah menjelaskan kepada beberapa sahabat yang mengira bahwa kecintaan terhadap keindahan bisa menafikan iman, dan menjadikan pelakunya terperosok dalam kesombongan, sebagiamana diceritakan sebuah hadist. Rasulullah bersabda,โTidak akan masuk sorga siapa yang di hatinya ada rasa sombog, walau sebesar biji sawi.โ Maka berkatalah seorang lelaki, โSesungguhnya ada seorang lelaki menyukai agar baju dan sandalnya menjadi bagus.โ Maka bersabda Rasulullah saw., โSesungguhnya Allah Maha Indah dan Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, Jakarta Gema Insani Press, hal. 13-14. M. Quraisy Shihab Dkk, Islamโฆ,hal. 185 Islam Futura, Vol. VI, No. 2, Tahun 2007 Raina Wildan menyukai keindahan.โ HR. Muslim. Seni yang sahih adalah seni yang bisa mempertemukan secara sempurna antara keindahan dan al haq, karena keindahan adalah hakikat dari ciptaan ini, dan al haq adalah puncak dari segala keindahan ini. Oleh karena itu Islam membolehkan penganutnya menikmati keindahan, karena hal itu adalah wasilah untuk melunakkan hati dan perasaan. Lingkungan Islam yang lebih terbuka terhadap seni ini adalah para sufi dan filosof. Banyak para filosof Islam yang benar-benar menguasai musik dan teorinya, beberapa diantaranya seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina, dimana mereka ahli-ahli teori musik tabib muslim menggunakan musik sebagai sarana penyembuhan penyakit baik jasmani maupun rohani. Bagi para sufi, seni adalah jalan untuk dapat menangkap dimensi interior Islam, dimana seni terkait langsung dengan spriritual. Al-Ghazali sebagai tokoh sufi mengatakan bahwa mendengar nada-nada vokal dan instrumen yang indah dapat membangkitkan hal-hal dalm kalbu yang disebut Al-Wujud atau kegembiraan hati. Prinsip-prinsip seni di dalam Islam adalah sebagai berkut 1. seni yang dapat mengangkat martabat insane dan tidak meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan 2. seni yang dapat mementingkan persoalan akhlak dan kebenaran yang menyentuh aspek estetika, kemanusiaan dan moral 3. seni yang dapat menghubungkan keindahan sebagai nilai yang tergantung kepada seuruh kesahihan Islam itu sendiri, dimana menurut Islam seni yang mempunyai nilai tertinggi adalah seni yang dapat mendorong kearah ketaqwaan, kemaโrufan dan moralitas 4. seni yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam sekitarnya M. Quraisy Shihab Islam danโฆ, hal. 202 Jakob Sumardjo, Filsafat Seni, Bandung ITB, 2000, hal. 10 Mustofa, Filsafat Islam, Bandung, CV. Pustaka Setia, 1997, hal. 125 Kesenian Dalam Islam Islam Futura, Vol. VI, No. 2, Tahun 2007 Raina Wildan Islam dapat menerima semua hasil karya manusia selama sejalan dengan pandangan Islam menyangkut wujud alam raya ini. Namun demikian wajar dipertanyakan bagaimana sikap satu masyarakat dengan kreasi seninya yang tidak sejalan dengsan budaya masyarakatnya. Dalam konteks ini, perlu digarisbawahi bahwa Al-Quran memerintahkan kaum Muslim untuk menegakkan kebajikan,memerintahkan perbuatan makruf dan mencegah perbuatan munkar. Makruf merupakan budaya masyarakat sejalan dengan nilai-nilai agama, sedangkan munkar adalah perbuatan yang tidak sejalan dengan budaya masyarakat. Dari sini, setiap Muslim hendaknya memelihara nilai-nilaibudaya yang makruf dan sejalan dengan ajaran agama, dan iniakan mengantarkan mereka untuk memelihara hasil seni budayasetiap masyarakat. Seandainya pengaruh apalagi yang negatif dapat merusak adat-istiadat serta kreasi seni dari satu masyarakat, maka kaum Muslim di daerah itu harus tampil mempertahankan makruf yang diakui oleh masyarakatnya, serta membendung setiap usaha dari mana pun datangnya yang dapat merongrong makruf tersebut. Bukankah Al-Quran memerintahkan untuk menegakkan Seni Dalam Islam Ada beberapa batasan-batasan dalam Islam atau larangan dalam Islam terhadap berbagai seni, seperti seni patung, dimana ada beberapa alasan yang melarang terhadap seni ini, yaitu Dalam surat Al-Anbiya ayat 21 dimana diuraikan tentang patung-patung yang disembah oleh ayah Nabi Ibrahim dan kaumnya. Sikap Al-Qurโan terhadap patung-patung itu bukan sekedar menolaknya, tapi juga menghendaki penghancuran terhadap patung-patung tersebut. Di sini Allah menginginkan bahwa patung-patung pahatan hasil manusia tidak dijadikan sebagai suatu sembahan atau suatu yang menggambarkan kepada suatu Maha Pencipta yaitu Tuhan untuk disembah atau berhala. M. Quraish Shihab, Wawasa Al-Qurโan, Bandung, Mizan, 2000, hal. 10. Islam Futura, Vol. VI, No. 2, Tahun 2007 Raina Wildan Selain itu juga ada batasan dalam seni musik, dimana sering kali orang lebih menyenangi jenis-jenis musik yang terkadang bisa membuat kita lalai dan jauh dari agama, seperti musik-musik Rock, yang bernuansa keras, bukan musik-musik yang Islami. Kemudian juga seni bernyanyi, seperti kasus Inul Daratisda dimana seni yang ditampilkan bukanlah seni bernyanyi melainkan gerakan-gerakan yang fulgar yang bisa menggarah kepada hal-hal yang tidak baik untuk dipertontonkan. Tidak seperti syair-syair Islam yang bisa memberi semangat spiritual kepada yang mendengarkannya. Ada beberapa dalil yang mengatakan bahwa nyanyi itu diharamkan 1. Berdasarkan Firman-Firman Allah yang terdapat dalam beberapa surat di dalam Al-Qurโan diantaranya surat Luqman ayat 6, An-Najm ayat 59-61, Al-Israโ ayat Berdasarkan Hadist-hadist diantarannya Hadits Abu Malik Al-Asyโari ra bahwa Rasulullah Saw bersabda โSesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik โal-maโazifโ HR. Bukhari, Shahih Bukhari Hadits Aisyah ra Rasulullah Saw bersabda โSesungguhnya Allah mengharamkan nyanyian-nyanyian qoynah dan menjualbelikannya, mempelajarinya atau mendengar-kannya.โ Kemudian beliau membacakan ayat di atas HR. Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Mardawaih Selain itu aksi pornografi dan porno aksi adalah batasan yang sangat melanggar agama. Disatu sisi orang memandang itu adalah suatu bentuk seni, tetapi di dalam Islam itu justru menggarah kepada hal-hal yang tidak baik, haram untuk di kembangkan. Pengaruh dunia barat dalam Islam terhadap seni seperti kasus kartun yang melecehkan Rasulullah saw, Satanic Verses Salman Rusdi, film Buruan Cium Gue, rencana majalah Playboy versi Indonesia, kasus Anjasmara โtelanjangโ, Al-Jazairi, Abi Bakar Jabir. 1992, Haramkah Musik dan Lagu ? Al-Iโlam bi Anna Al-โAzif wa Al-Ghina Haram. Alih Bahasa oleh Awfal Ahdi. Cetakan I. Jakarta Wala` Press, hal. 20-22 Fatwa Pusat Konsultasi Syariah. Lagu dan Musik. Islam Futura, Vol. VI, No. 2, Tahun 2007 Raina Wildan penolakan terhadap RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang dilakukan LSM-LSM feminis dan mereka yang mengatakan diri sebagai pekerja seni, serta puluhan kasus serupa yang telah menimbulkan keresahan masyarakat-hingga menyebabkan terjadinya demonstrasi dalam skala internasional, terjadi bisa dikarenakan akibat dari merebaknya ideologi kebebasan berekspresi, yakni paham liberal. Paham ini, adalah sebuah ideologi โmentahโ yang dipaksakan oleh negara-negara besar terhadap dunia ketiga. Iideologi produk Barat berbeda dengan Islam. Islam adalah agama โrealitaโ, Islam bukanlah agama yang menyuruh umatnya untuk tinggal di kuil-kuil dan terus-menerus melakukan ritual meninggalkan kehidupan dunia, juga bukan ideologi yang mencampakkan penganutnya ke dalam lautan syahwat yang tidak bertepi, yang tidak mengenal halal-haram, tidak mengenal akhlak, serta menyebarkan kerusakan di mana-mana dengan dalih seni. Penutup Islam melalui sumbernya utama Al-Qurโan sangat menghargai seni. Al-Qurโan menuntun manusia mengenal Allah mengajak untuk memandang keseluruhan jagad raya yang diciptakan-Nya dengan serasi dan indah. Menikmati keindahan jagad raya ini, kita bisa membuktikan bahwa Allah sangat mencintai keindahan, menciptakan alam raya ini dengan indah tanpa kurang apapun. Ini lah bukti kebesaran Allah yang patut kita rasakan dan kita nikmati. Seni yang Islami adalah seni yang menggambarkan wujud dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan fitrah. Seni Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan Islam tentang alam, hidup dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan. Keindahan adalah salah satu sebab tumbuh dan kokohnya keimanan, sehingga keindahan itu menjadi sarana mencapai kebahagiaan dalam kehidupan. Sumber-sumber seni dalam Islam meliputi Al-Qurโan dan Hadits. Dan yang menajdi prinsip-prinsip dalam seni adalah ketauhidan, kepatuhan dan keindahan. Islam Futura, Vol. VI, No. 2, Tahun 2007 Raina Wildan Daftar Kepustakaan Abdurrahman Al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, Jakarta, Gema Insani, 1991 Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, Jakarta Gema Insani Press Al-Jazairi, Abi Bakar Jabir, Haramkah Musik dan Lagu ? Al-Iโlam bi Anna Al-โAzif wa Al-Ghina Haram. Alih Bahasa oleh Awfal Ahdi. Cetakan I. Jakarta Wala` Press,1992 M. Quraisy Shihab Dkk, Islam dan Kesenian, Jakarta, Majelis Kebudayaan Muhammadiyah Universitas Ahmad Dahlan Lembaga Litbang PP Muhammadiyah, 1995 M. Quraish Shihab, Wawasa Al-Qurโan, Bandung, Mizan, 2000 Mustofa, Filsafat Islam, Bandung, CV. Pustaka Setia, 1997 Nasr, Sayed Hossein, Spiritual dan Seni Islam, Bandung, Mizan, 1993 www. minda-madani Fatwa Pusat Konsultasi Syariah. Lagu dan Musik. ... Oleh karena kehadiran seni itu pula kegiatan keagamaan dapat menciptakan rasa nyaman dan tidak kaku. Islam dan Katolik mengarahkan umat beriman mengenal Allah mengajak untuk memandang keseluruhan dunia yang diciptakan-Nya dengan serasi dan indah Wildan, 2007. Keindahan itu tentunya menyentuh cakupan dari seni itu sendiri. ...... Bahkan lebih jauh lagi, melalui seni umat beriman dapat menikmati keindahan dunia. Melalui keindahan jagad raya tersebut manusia beriman mampu memaknai bahwa Tuhan sangat memberi hati pada keindahan Wildan, 2007. Kesadaran bahwa Tuhan sangat mencintai keindahan, memberi tugas baru kepada manusia, yaitu memahami keindahan atau seni itu dengan benar. ...Albert ManurungYulius Hendrico PeriThomas KristiatmoKeterlibatan seni dalam kehidupan manusia menjadi hal yang fundamental. Bidang keagamaan juga melibatkan seni. Islam dan Katolik memberi tempat bagi seni untuk berpartisipasi untuk menggapai kasih Tuhan. Seni yang memiliki prioritas untuk menciptakan keindahan, mendorong gerak batin manusia untuk lebih mengenal Sang Maha Keindahan yang adalah Tuhan. Tulisan ini melihat makna dan partisipasi seni di dalam agama Islam dan Katolik. Tulisan ini juga bermaksud untuk secara sederhana mengungkapkan peran seni sebagai salah satu upaya membangun sikap toleransi antar umat beragama dalam semangat integritas terbuka. Tulisan mengungkapkan bahwa Islam dan Katolik selalu mengarahkan umat beriman mengenal Tuhan mengajak untuk memandang keseluruhan dunia yang diciptakan-Nya dengan serasi dan indah dalam seni. Melalui seni dari kedua belah pihak, toleransi yang berpusat pada kedamaian bisa semakin menyentuh esensi terdalamnya. Pada akhirnya terlihat dengan jelas bahwa melalui seni umat beriman dijarkan untuk paham bahwa agama itu indah. Keindahan dalam Katolik tidak berseberangan dengan keindahan di dalam agama Islam.... Kebudayaan Islam merupakan kebudayaan yang bersumber dari Al Quran, sehingga sangat logis jika seni Islam merupakan seni Qurani [12], [13]..Dengan demikian peranan dari ornamen dan ragam hias Timur Tengah Islamic Pattern sangat mendominasi dan menjadi ciri berkaitan dengan arsitektur dan interior sebuah Masjid. Berikut ini adalah jenis ornamen khas Timur Tengah yang menjadi ciri ornamen yang terdapat pada sebuah Masjid [14] ... Zulfikar Taqiuddin UmarHusnus SawabMeutia Kemala RezkyIndonesia * KorespondenBuilding typology in an architectural context is closely related to tracing the forming elements of a building object. There are three processes in determining a typology basic shape, basic properties, and the process of developing a shape. The mosque was first built by the Prophet, the Cuban Mosque. It has a very simple architecture with priority to function, without any ornamentation on the interior or exterior of the mosque. Over the centuries, mosque architecture has developed and has characteristics that are influenced by the mindset, concepts, and culture of the local community. The face of a mosque is known as the faรงade, an element that can communicate culture and creativity through ornaments and other decorations to create an identity for the building. A qualitative descriptive research method was used to analyze the typology of ornaments used on the facade of the Great Mosque of Syahrun Nur Sipirok Tapanuli Selatan. This study aims to determine how the typology of ornaments is used and the combination of local ornaments and Islamic ornaments Islamic Patterns at the Great Sipirok Mosque. The results of the analysis showed that the Syahrun Nur Sipirok Great Mosque uses local ornaments that are pure or have been modified and combined with Arabic and geometric ornaments. Local ornaments are used to become an icon of regional pride and identity. Abstrak Tipologi bangunan dalam konteks arsitektur terkait erat dengan penelusuran melalui elemen-elemen pembentuk pada objek bangunan. Terdapat tiga proses dalam menentukan suatu tipologi yaitu bentuk dasar, sifat-sifat dasar, dan proses perkembangan bentuk. Masjid pertama kali dibangun oleh Rasulullah, yaitu Masjid Kuba. Memiliki arsitektur yang sangat sederhana dengan mengutamakan fungsi tanpa adanya ornamen pada interior maupun eksterior masjid. Selama berabad-abad arsitektur masjid telah berkembang dan memiliki ciri masing-masing yang dipengaruhi oleh pola pikir, konsep, dan budaya masyarakat setempat. Wajah suatu masjid dikenal dengan istilah fasad, merupakan elemen yang dapat mengkomunikasikan mengenai budaya dan kreativitas melalui ornamen dan dekorasi lainnya sehingga menciptakan identitas bagi bangunan tersebut. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif untuk menganalisis tipologi ornamen yang digunakan pada fasad Masjid Agung Syahrun Nur Sipirok Tapanuli Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tipologi ornamen yang digunakan dan penggabungan ornamen lokal dan ornamen Islam Islamic Pattern pada Masjid Agung Sipirok. Dari hasil analisis didapatkan bahwa pada Masjid Agung Syahrun Nur Sipirok menggunakan ornamen lokal yang bersifat murni maupun telah dimodifikasi dan digabungkan dengan arabesque dan ornamen geometri. Ornamen lokal digunakan untuk menjadi ikon kebanggaan dan identitas suatu daerah. Kata kunci tipologi, ornamen masjid, fasad, masjid agung Syahrun Nur, tapanuli selatan 1. Pendahuluan Masjid merupakan bangunan umat Islam yang digunakan sebagai tempat shalat dan melakukan kegiatan ibadah lainnya. Masjid yang dibangun memiliki konsep yang bagian penempatan, fungsi, dan desainnya semuanya merujuk kepada ketentuan Islam. Masjid merupakan simbol dari arsitektur Islam yang memainkan peranan penting dalam mencerminkan keagungan terhadap Allah. Dari berbagai cara yang diterapkan, salah satunya melalui penerapan nilai estetika pada Masjid [1]. Nilai estetika tersebut biasanya diwujudkan melalui ornamen atau ragam hias yang biasanya diletakan pada interior dan eksterior dari Masjid. Ornamen yang terdapat pada interior dan eksterior Masjid pada dasarnya bukan merupakan kebudayaan yang berkembang pada masa Nabi Muhammad, tapi dari perkembangan arsitektur yang ada pada tiap-tiap daerah dan perkembangan zaman yang mengikuti norma-norma Islam. Penafsiran dari nilai... Islam through its main source the Qur'an highly values art. The Qur'an leads people to know Allah invites to look at the entire universe he created harmoniously and beautifully Wildan, 2007. Fourth, manage natural resources optimally, meaning that they are not wasteful, excessive, or damaging to the environment. ... Novalini JailaniThis study aims to formulate alternative strategies for developing the creative economy in the craft subsector. This research was conducted by field research with a descriptive qualitative approach. Data collection is done by conducting interviews, observation and documentation. Primary data sources were obtained from direct interviews with owner and production manager of Ridaka Woven & Craft. Secondary data were obtained from various books, articles, journals and authoritative websites relevant to this research. Data were analyzed using the SWOT analysis technique by identifying internal factors which are strengths and weaknesses, as well as external factors which are opportunities and threats for business development. The results of this study found that to be able to develop its business, Ridaka Woven & Craft can apply several strategies, namely 1 with sufficient raw materials it can continue to innovate products in terms of motifs and types that suit market tastes in order to make handicraft products competitive. Then always maintaining the characteristics of ecofriendly products to reach the global market which is currently a trend of using products that are environmentally friendly. 2 Maximizing the role of social media and the internet as promotional and marketing media. 3 Conduct skills training and knowledge development to improve the quality of human resources. 4 Frequently participating in events and bazaars can also be an effort to promote products and brands. 5 The government always supports by providing information to build people's mindset about handicraft products as local brands.... Konsep kesenian dalam perspektif islam yaitu membimbing manusia kearah konsep tauhid dan pengabdian kita sebagai makhluk kepada Allah SWT dan juga Motif seni digagas untuk membentuk manusia yang bertujan baik dan berahklak. Wildan, 2018. Dalam hal ini seni dan islam khususnya seni rupa dipahami sebagai spiritualitas islam secara langsung dengan dibentuknya karya -karya tertentu dari seorang seniman, bukan hanya saja dari bentuk penciptaan seninya saja tetapi mengandung makna mengenai aspek keislaman didalamnya. ... Muhamad ParhanEka Nur Lia SukmaFikri Ilham NugrahaKaryana Tri UtamaAbstrakSeni rupa merupakan salah satu cabang seni yang diekspresikan melalui media rupa atau visual yang sangat bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi disaat perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin meningkat justru muncul kesenjangan yang cukup signifikan antara Seni dengan disiplin ilmu dalam Islam. Padahal seni memiliki porsi yang sangat besar di dalam agama yang menujukan visual dari peristiwa di dunia dan tanda-tanda Ilahi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan caramengumpulkan survey sederhana kepada mahasiswa atau seniman muslim yang berada di Bandung dengan rentang usia 18-21 tahun yang dilakukan secara daring menggunakan google form. Hasil penelitian menunjukan bahwa kontribusi seni rupa sebagai displin ilmu dalam Islam dengan afterlife mapping memerlukan upaya rekonstruksi pemikiran kependidikan dalam rangka mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi pertama, kontribusi seni apa saja yang dihasilkan seniman/mahasiswa muslim pada saat ini; kedua, jangan beranggapan bahwa seni rupa membuat pelaku seni jadi jauh dari kaidah Islam, karena hal tersebut hanyalahstereotype; ketiga buatlah rencana dengan kontribusi yang dimiliki untuk kehidupan kunci kontribusi seni rupa; disiplin ilmu; afterlife mapping AbstractFine art is a branch of art that is expressed through visual or visual media that is in close contact with everyday life. However, when the development of science is increasing, there appears a significant gap between art and disciplines in Islam. Whereas art has a very large portion in religion which shows visuals of events in the world and divine signs. The research method uses a qualitative approach by collecting a simple survey of Muslim students or artists in Bandung with an age range of 18-21 years which is carried out online using Google Form. The results show that the contribution of art as a discipline in Islam with afterlife mapping requires an effort to reconstruct educational thinking in order to anticipate any changes that occur first, what artistic contributions are produced by Muslim artists/students at this time; secondly, do not assume that art makes art performers away from Islamic principles, because this is just a stereotype; Third, make a plan with the contribution you have for the art contribution; disciplines; afterlife mapping Nurul AdhhaMelalui Buku Ajar ini, penulis berusaha menyajikan sumber belajar yang ringan namun sarat informasi bagi seluruh pembaca baik kalangan sivitas akademika secara khusus maupun khalayak ramai pada umumnya. Penulis menemukan bahwa Agama dan Etika merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Agama Islam maupun Etika Islam adalah satu kesatuan yang mampu meningkatkan iman dan membuat Takwa menjadi paripurna. Komitmen agama seseorang akan menentukan komitmen etikanya di dalam kehidupan sehari-hari. Agama dan etika menjadikan seorang individu mampu memutuskan apa yang benar secara sistematis. Selain itu Agama dan Etika Islam merupakan perintah ilahi yang menjadi seperangkat kayakinan dan norma yang akan membawa manusia kepada keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Unik Hanifah SalsabilaMuhammad Lutfi Nur HanifanMuhammad Ibnu MahmudaAnggi PratiwiIslamic Religious Education is a subject that has been given to students from an early age, with the intention of familiarizing children with the Religion of Islam. The introduction of Islamic religious education to children has developed in every era, from those who previously used books or lectures, to now using electronic learning media. Islamic religious education learning media has many kinds of media and models, such as visual, audio, and audio-visual media. The development of the all-digital era certainly has positive and negative impacts, the positive impact is that learning is more interesting and can adapt to the potential of students, and the negative impact is that it is easy to find information what children want, with the fear of finding something that leads to negative things. Muhamad ParhanCindy Anugrah PratiwiRika AgustinaSalsa Nurul AiniThis article provides an overview of the implications of Islamic science and art. Not many dancers wearing hijab when dancing, because it is considered something unusual. Various stigmas appear in the perspective of society when they see dancers wearing hijab. One of the stigmas given is that women or girls wearing hijab are not supposed to dance because often the movements performed can invite lust, for instance, through erotic movements that could trigger lust especially in men who are not family members of the women. The dancers wearing hijab, on the other hand, appear to be conveying an implicit message of Islamic preaching. Every dance, in fact, has meaning and serves as a medium for the dancerโs self-actualization through movements. With this phenomenon in mind, this study was conducted to collect, conclude, and share understanding from many perspectives on hijab-wearing dancers. To obtain larger data, this study used a qualitative method with descriptive analysis. This research could be used as a reading source to open up fresh perspectives for society and to encourage hijab-wearing women to express themselves limitlessly when doing activities such as IchsanMuhammad AfadhMuhammad FatahillahAdam Baustin ErlanggaThis research focus on studying the art based on Islamic perspective. The aim of this research is to understand Islamic perspective towards the art. Besides to develop the concept of art in the religion aspect, it also to understand the implementation of art towards the Islamic education. By using descriptive method, this study also analyze certain phenomenon in the present or past. Researchers conduct trusted resources of books and articles in the internet to be reviewed comprehensively. It is conducted to draw certain conclusion to give us new horizon about Islamic perspective towards art. Key words art, Islam, education, implementation, Mustaqim Ahmad Shofiyuddin IchsanIsnaini Nur 'ainunPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai pendidikan religius pada seni musik Rofa Band di Pondok Pesantren Raudlatul Fatihah Pleret Bantul Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan metode kualitatif deskriptif dan menggunakan pendekatan studi kasus. Adapun pengumpulan datanya menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan metode analisis data menggunakan analisis Seiddel. Hasil penelitian ini dapat dipahami bahwa pementasan seni musik Rofa Band di pesantren ini memiliki dua kegiatan, yakni pementasan musik dan rutinan jagongan bareng pemusik. Metode dakwah yang dilakukan oleh Kyai dalam menyisipkan nilai pendidikan religius pada setiap kegiatannya melalui tiga metode, yakni ceramah, tanya jawab, dan amtsal. Adapun dampak yang ditimbulkan dari implementasi seni musik Rofa Band adalah sebagai ekspresi kecintaan dan keindahan, sebagai pengagungan Sang Pencipta, terlahirnya hubungan baik antara manusia dengan Allah dan sesama manusia, terwujudnya hubungan baik antara aqidah, syariah dan akhlak, dan menjadikan segala sesuatu sebelumnya yang buruk menjadi lebih is known for having a variety of cultural values. The usage of "pelamin" decorations is well-known in Malay weddings in Malaysia. The roots of design and layout are examined in the context of culture and visual art in this study. The point is that this concept originated from the royal throne, o which has been embraced to depict the concept of the "raja sehari" bridegroom during wedding ceremonies. In Malaysia, the consequence of cultural exchange is also a factor in the professional decoration's renewal results. This study aims to figure out how Malay wedding decorations are designed and what cultural influences they have. It also examines the viability of traditional and modern Malay wedding decorations. Keywords Influence; Malay Traditional Design; Malay Wedding; Malay Decoration eISSN 2398-4287 ยฉ 2022. The Authors. Published for AMER ABRA cE-Bs by e-International Publishing House, Ltd., UK. This is an open access article under the CC BYNC-ND license Peerโreview under responsibility of AMER Association of Malaysian Environment-Behaviour Researchers, ABRA Association of Behavioural Researchers on Asians and cE-Bs Centre for Environment-Behaviour Studies, Faculty of Architecture, Planning & Surveying, Universiti Teknologi MARA, Malaysia. DOI Musik dan Lagu ? Al-I"lam bi Anna AlAbi Bakar JabirAl-Jazairi, Abi Bakar Jabir. 1992, Haramkah Musik dan Lagu ? Al-I"lam bi Anna Al-"Azif wa Al-Ghina Haram. Alih Bahasa oleh Awfal Ahdi. Cetakan I. Jakarta Wala` Press, hal. 20-22 14Abi Bakar JabirHaramkah Musik DanLaguAl-Jazairi, Abi Bakar Jabir, Haramkah Musik dan Lagu ? Al-I"lam bi Anna Al-"Azif wa Al-Ghina Haram. Alih Bahasa oleh Awfal Ahdi. Cetakan I. Jakarta Wala` Press,1992Spiritual dan Seni Islam, Bandung, Mizan, 1993 www. minda-madani onlineSayed NasrHosseinNasr, Sayed Hossein, Spiritual dan Seni Islam, Bandung, Mizan, 1993 www. minda-madani Fatwa Pusat Konsultasi Syariah. Lagu dan Musik.
Ilustrasi Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa. Foto adalah sebuah proses kreasi untuk menciptakan karya seni dua dimensi. Dalam ajaran Islam, menggambar menjadi salah satu hal yang diatur soal pelaksanaannya. Jika menyalahi aturan, hukumnya pun bisa berubah menjadi dari buku Menggambar Kucing Besar dengan Pensil Predator karangan Veri Apriyatno, menggambar merupakan sebuah proses eksplorasi kreativitas untuk mengekspresikan gambar, seseorang dapat menuangkan gagasan yang tidak dapat diungkapkan lewat media lain. Karenanya, menggambar tidak hanya menciptakan karya seni yang dapat dinikmati orang lain, namun juga dapat menjadi media aktualisasi diri seorang dari buku Jejak seni dalam Sejarah Islam karangan Febri Yulika, perkembangan seni lukis dalam Islam tidaklah sesukses perkembangan seni rupa lainnya. Itu karena minimnya perhatian seniman Islam yang mempelajari seni lukis. Mereka lebih banyak menuangkan perhatiannya pada bidang seni lain, misalnya seni bangunan, seni hias, seni kerajinan dan seni saat itu, muncul berbagai pendapat serta pembahasan dari ulama dan pakar Islam mengenai boleh atau tidaknya menggambar atau melukis makhluk bernyawa tashwir. Bagaimana sebenarnya hukum menggambar makhluk bernyawa dalam Islam?Ilustrasi Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa. Foto Menggambar Makhluk Bernyawa dalam IslamDalam buku Jejak seni dalam Sejarah Islam karangan Febri Yulika dijelaskan, terdapat petunjuk tentang larangan menggambar makhluk bernyawa dalam sebuah hadits. Disebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang pembuatan gambar shuwar dan patung tamatsil, karena dapat memberikan mudharat perbuatan dosa besar yang disebabkan penyekutuan Allah SWT sebagai Maha dari buku CAAP JAY Cukupkan Amalan Agama Pasti Jayalah Akherat Yad karangan Beny Harjad, para ulama sepakat bahwa hukum menggambar makhluk bernyawa adalah haram. Hukum haram ini berlaku untuk binatang dan manusia, sedangkan menggambar tumbuhan tidak bernyawa hukumnya Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa. Foto tentang Hukum Menggambar Makhluk BernyawaDisadur dari buku Jejak seni dalam Sejarah Islam karangan Febri Yulika dan CAAP JAY Cukupkan Amalan Agama Pasti Jayalah Akherat Yad karangan Beny Harjad, berikut beberapa hadits tentang larangan menggambar makhluk hidup dalam Islam.โBarangsiapa menggambar suatu gambar dari sesuatu yang bernyawa di dunia, maka dia akan diminta meniupkan ruh kepada gambarnya itu kelak di hari akhir, sedangkan dia tidak kuasa untuk meniupkannya.โ HR. BukhariโSesungguhnya diantara manusia yang paling besar siksanya di hari kiamat adalah orang-orang yang menggambar makhluk yang bernyawa.โ Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, bab TashwiirโSetiap orang yang menggambar berada di neraka yang akan dijadikan untuknya tiap-tiap gambar yang ia gambar itu dalam bentuk jiwa yang akan menyiksa dia di neraka.โ HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim
ABSTRAK Penelitian yang bertema konsep kesenian profetik dan implementasinya dalam pendidikan Islam ini didasarkan atas latar belakang maraknya kreasi seni yang dipengaruhi oleh konsep dan atau teori seni untuk seni Lโart pour Lโart yang condong menampilkan kreasi seni bebas nilai yang cenderung menegasikan nilai-nilai etika, estetika dan kebenaran. Penelitian ini mencoba menggagas konsep seni profetik yang akan lebih memberi manfaat dan tujuan jelas ke mana seni harus dibawa, yaitu tetap bersinergi dengan kepentingan etika, estetika dan kebenaran. Kalangan agamawan maupun sosial mencoba mencari pendasaran ontologis, epistemologis maupun axiologis. Pendasaran ini berangkat dari misi profetis agama-agama yang juga mempunyai kepedulian terhadap tegaknya etika, estetika dan kebenaran. Misi profetis agama merupakan gerakan profetis melalui teologi yang menjadi ideologi revolusioner yang selalu mengusung perubahan peradaban. Disinilah gerakan etika profetik dalam agama-agama membumi menjadi implementasi sosial termasuk di dalamnya seni. Penelitian ini juga untuk mengetahui dan memahami praksis seni profetik dalam pendidikan Islam. Islam sebagai rahmatan lil alamin tentu tidak menutup mata dalam ikut serta ber-fastabiqul khairat mengembangkan kemajuan peradaban lewat kesenian dan pendidikan. Penelitian ini, menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan pendekatan metode analisa Heuristik; yaitu mencari pemahaman baru dengan melakukan pendeskripsian, refleksi kritik dan penyimpulan terhadap kesenian dan gagasan seni profetik. Kesimpulan penelitian ini adalah kesenian profetik sebagai sebuah konsep yang positif terhadap perkembangan paradigma berkesenian terbukti diperlukan untuk dikembangkan sebagai konsep tujuan dan nilai berkesenian. Penelitian ini juga membuat resep teoritis implementasi seni profetik dalam pendidikan Islam. Seni profetik dalam pendidikan Islam adalah sesuatu yang mesti dipentingkan sebagai tawaran kreativitas metode syiar. Seni yang Islami dan profetis akan membuat kehidupan umat menjadi lebih indah dalam syariat Islam yang telah ditentukan. Kata Kunci Seni, Seni Profetik, Seni Islam, Pendidikan Islam
Halaman 1 dari 38 halaman ini nanti diblok sepenuhnya dengan file jpg sebagai cover depan. Ukurannya 11,43 cm x 22 cm muka daftar isi Halaman 2 dari 38 muka daftar isi Halaman 3 dari 38 Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan KDT Tashwir Seni Rupa Dalam Pandangan Islam Penulis Ahmad Hilmi, Lc., MA 38 hlm Judul Buku Tashwir Seni Rupa Dalam Pandangan Islam Penulis Ahmad Hilmi, Lc., MA Editor Fatih Setting & Lay out Fayyad Fawwaz Desain Cover Moh. Abdul Wahhab Penerbit Rumah Fiqih Publishing Jalan Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940 Cetakan Pertama 5 Oktober 2018 muka daftar isi Halaman 4 dari 38 Daftar Isi Daftar Isi ..............................................................4 A. Pendahuluan....................................................... 6 Bab 1 Hadis-Hadis Nabi Tentang Tashwir ................ 9 1. Hadits Pertama .............................................. 9 2. Hadits Kedua .................................................. 9 3. Hadits Ketiga ................................................ 10 4. Hadits Keempat............................................ 10 5. Hadits Kelima ............................................... 11 6. Hadits Keenam ............................................. 12 Bab 2 Hukum Tashwir .......................................... 14 A. Halal Secara Mutlak .......................................14 1. Larangan Hanya Pada Patung....................... 14 2. Syariat Umat Terdahulu Haramkan Patung .. 17 3. Dinar Dan Dirham Bergambar Manusia........ 18 4. Penasfiran Yang Berbeda ............................. 19 B. Haram Secara Mutlak .....................................20 1. Kemutlakan Hadis ........................................ 21 2. Sikap Kehati-Hatian...................................... 22 C. Pendapat Pertengahan ...................................24 1. Patung Manusia Dan Hewan ........................ 24 2. Gambar Dibuat Sempurna............................ 24 3. Bahan Materi Tahan Lama ........................... 25 Bab 3 Illat Diharamkannya Gambar.....................26 A. Unsur Madharat.............................................26 B. Wasilah Syirik.................................................26 muka daftar isi Halaman 5 dari 38 C. Menyerupai Orang Kafir .................................27 D. Menghalangi Masuknya Malaikat ..................28 Bab 4 Wujud Tashwir............................................29 A. Tumbuhan Dan Benda Mati............................29 B. Boneka Mainan Anak-anak.............................30 C. Memajang Gambar Makhuk Bernyawa...........31 D. Baju Bergambar .............................................32 1. Hanafi dan Maliki ......................................... 32 2. Syafiโi ........................................................... 32 3. Hambali........................................................ 33 E. Fotografi.........................................................33 1. Pendapat Pertama ...................................... 33 2. Pendapat Kedua........................................... 34 Kesimpulan ............................................................35 Tentang Penulis .....................................................36 muka daftar isi Halaman 6 dari 38 A. Pendahuluan Seni rupa merupakan salah satu seni yang sudah lama dikenal dan dilakukan oleh umat manusia. Baik berupa gambar lukisan, mural dan patung-patung. Bahkan dalam perkembangannya, seni rupa dijadikan salah satu mata kuliah di beberapa universitas di dunia, bahkan dibuka fakultas tersendiri yang berkaitan dengannya. Selain sebagai peninggalan peradapan kuno dan terus lestari sampai saat ini, seni rupa juga dijadikan sebagai salah satu hobi. Bahkan sebagian orang menjadikannya sebagai salah satu profesi yang menghasilkan keuntungan materi. Menyikapi fenomena tersebut, perlu kiranya dikaji dari sudut pandang hukum Islam dengan memaparkan pendapat para ulama tentang seni rupa, baik pembuatannya, seni rupa dijadikan objek transaksi, dan penghasilan yang diperoleh dari seni rupa tersebut. Dan yang tak kalah penting dari itu semua adalah dalil-dali yang dijadikan pijakan hukum oleh para ulama dalam pendapatnya. Sebelum masuk pada kajian hukum Islam tentang seni rupa, penting untuk dibahas lebih dulu pengertian gambar, lukisan, photografi, dan semua muka daftar isi Halaman 7 dari 38 hal yang berkaitan dengan seni rupa. Pengertian seni rupa adalah cabang kesenian yang membentuk sebuahkarya seni dengan menggunakan media yang dapat ditangkap secara kasat mata dan juga dapat dirasakan ataupun disentuh dengan indera peraba. Ketika bicara masalah seni rupa, tentu sangat erat kaitannya dengan unsur yang dikandungnya. Titik, garis, bidang, bentuk, ruang, warna, tekstur, gelap terang dan lain sebagainya. Dari pengertian ini maka lukisan, sketsa, ilustrasi, ukiran relief, dan patung termasuk di dalamnya. Dalam bahasa Arab ada beberapa kata yang bisa mewakili istilah seni rupa, diantaranya kalimat tashwir, tamatsil, dan rasm. Tashwir adalah proses pembuatan suatu bentuk rupa tertentu yang membedakan antara satu bentuk dengan bentuk Atau tashwir juga bisa diartikan sebagai upaya menyerupakan mencontoh dengan suatu bentuk yang sudah ada, baik berupa bentuk tiga dimensi 3D seperti patung, maupun dalam goresan di bidang datar seperti gambar dan lukisan. Ini berlaku untuk semua objek, baik benda mati atau makhluk hidup. Bernyawa atau tidak bernyawa. Berakal maupun tidak berakal. Termasuk dalam pengertian tashwir adalah bayangan benda karena sebab cahaya dan pantulan 1 Lisan al-Arab, Ibn Mandhur, \"โซ\"ุตูุฑโฌ muka daftar isi Halaman 8 dari 38 benda pada kaca dan yang sejenisnya. muka daftar isi Halaman 9 dari 38 Bab 1 Hadis-Hadis Nabi Tentang Tashwir 1. Hadits Pertama Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda โซูู ูุฎููู
ููโฌ โซุจูุนููุฒุนูููููุถูุฌุฉู ููุฃูููููููู
ู
ูููููุฎููุฃูููุธููููุงูู
ูุฐู
ููุฑู
ูุฉู ููโฌ โซููููู ููโฌ โซูุฐ ูู ูุจโฌ ูโซููุงูู ุงูููููโฌ โซูููููู ูุฎูููููุงโฌ โAllah โAzza wa Jalla berfirman, โSiapakah yang lebih zhalim dibandingkan orang yang ingin menciptakan sebagaimana ciptaan-Ku. Maka hendaknya mereka menciptakan lalat atau semut kecil jika mereka memang mampu!โ HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad 2. Hadits Kedua โซูู ูุฎููู
ููโฌ โซุฃู
ูููู
ูููู ูุดูุฐุนู
ููููุฑูุฉูุจโฌ โซููููู ููโฌ ูโซูุนูุฐูุฒูุฑูุฉ ููุฃููููุฌ ููู
ููู ูููุฎููู
ููููููุงุฃูุธููุญููุจููู
ุฉโฌ ูโซููุงูู ุงูููููโฌ โซูููููู ูุฎูููููุงโฌ โAllah Azza wa Jalla berfirman, โSiapakah yang lebih zholim dibandingkan orang yang menciptakan sebagaimana ciptaan-Ku. Hendahlah menciptakan semut kecil, biji atau gandum jika mereka memang mampu! โ HR. Bukhari muka daftar isi Halaman 10 dari 38 Hadis Dari Ibnu Umar radhiallahu โanhuma, bahwa Rasulullah Shalallahu โalaihi Wasallam bersabda โซุฅ ูู ุงููุฐู ูู ูุตููุนููู ู ู
ุฐู ุงู ููุตูููุฑ ูุน ูุฐุจููู ูููู
ุงูููุงู
ู
ุฉ ููุง ููโฌ โซ ุฃุญููุง ู
ุง ุฎููุชููู
โฌ โซูููู
โฌ Orang yang membuat gambar-gambar ini akan diadzab di hari kiamat, kemudian dikatakan kepada mereka hidupkanlah apa yang kalian buat ini.โ HR. Bukhari dan Muslim 3. Hadits Ketiga Hadis dari Abdullah bin Masโud radhiallahu โanhu, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda โซุฅ ูู ุฃุด ูุฏ ุงูููุง ู
ุณ ุนุฐุงููุจ ุนู ูุฏ ุงููููู
ู ูููู
ุงูููุงู
ู
ุฉ ุงูู
ุต ู
ูุฑูููโฌ Sesungguhnya orang yang paling keras adzabnya di sisi Allah pada Hari kiamat adalah tukang gambar. HR. Bukhari dan Muslim 4. Hadits Keempat Hadis dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha โซููโฌุโซูุชุงููููููููุชูู
ุฏูู
ูุนูุณูููููููุฑู
ููููุณูุฉูููู
ูููุณูููุงููุจู
ู
ูููู
ูู
ูููุฑูุงุชููู
ูุตูููููู
ูููู
โฌููโซููููููู
ูุงูููููููุงุฏูุตูููู ููุณูุชโฌุโซุงููุฆู
ู
ูููููุดูููุฉููู
ูุงุณูููุฑููู
ุฑู
ุขุถููู
ู
ูููููุฑุงูููุณูููููุณูููููุนูุฑููุงโฌุูโซุงููุชูุนูููุงููุซููู
ูู ูุนููุนูโฌ muka daftar isi ูโซููู
โฌููโซุงุงุงูููููู
ู
ููุณู
ููููุงุชููู
ูุนู
ุฉู
ูุฑุฐููุงุนูุงูุงูุงููุจุฆู
ูููุฉู
ูุฐููุดุฃูููุฉููููโฌ.ูโซูููุงูู
ู
ูููููโฌ.ููโซุงุณูุงููุดูููููุฏู
ูููุฏุชโฌHูโซูุฃูุจโฌaูโซู
ูโฌlโซุงโฌaโซูโฌโซู
ูุฐโฌmูโซููููุนูุฉโฌaโซุฃูุจููุดโฌnูโซุฆู
ู
โฌ1โซุงุณูุฉโฌ1โซููุนูุฏู
โฌdูโซุงุงโฌaโซููููุณโฌrโซูููโฌiโซุงู
ููููโฌ3โซุงโฌ8โซููู
ูุฏูููุถโฌ.โซููููููุงูููุงูุฃูููููู
ูู
ุงููู
ูุดโฌ.ูโซููููู
ุนููููู
ุฉูุงุฅู
ููููููููุงููู
ูุฌูููุจููู
ุฐูููู
ูู
ูุฌููู
ูุนููโฌโซุงููููููููููุงุชููู
ูููุดูููููุจู
ูุงุทููโฌ โDari Aisyah Radhiyallahu anha dia berkata Rasulullah sallahu alaihi wa sallam datang dari sebuah perjalanan, dan saya telah menutup bilikku dengan kain penutup horden yang bergambar. Ketika beliau melihatnya, kain tersebut tarimnya dan berubah raut wajah beliau. Kemudian beliau bersabda โWahai Aisayah, orang yang paling berat adzabnya pada hari kiamat adalah adalah mereka yang memebuat penyerupaan meniru ciptaan Allah.โ Kemudian Aisyah berkata kemudia kain tersebut kami potong dan menjadikannya satu atau dua bantal. HR. Bukhari dan Muslim 5. Hadits Kelima Hadis dari Ibn Abbas radiyallahu anhuma โซูโฌโซููููุงุง ููุฏุถูููุนโฌูโซูุฑูููุฌูููุญุงููููููุชูโฌุูโซูโฌ.ูโซุชู
ุฃููู
ููููููููุฏูููู
ููุฌูุงูู
ูู
ุกูุงูููโฌุูโซุงูููููุงู ููุฏูุตูุนูููููููุฑููู
ู
ูู
ููู
ูุงุฃูููโฌูโซูุฑูุฑูุซูู
ููุถููู
ุฐุงููู
ููุงโฌุโซุงูุฑุจููููุฌู
ููุฏููููููุนุฃุจููู
ู
ุงูููุตูููุณู
ูโฌุโซุฅู
ู
ู
ู
ูุนูู
ููู
ููโฌ muka daftar isi โซู
ูููุช ุฅู
ููู
ู
ูููููุตููููุจู
ูููููููุฑูุงููุณูููุชูููููููุงููุตูุนุงูููุจููููููููุฑูู
ู
ููุฉุฏูโฌโซุงููุนููููโฌ.โซููููููู
ูุณูุงูููููุนโฌHโซุซุณููโฌุaููโซุฑุงุณโฌlูโซู
โฌaูโซุจโฌmโซููููููู
ู
ูุฑุงโฌaโซููููููโฌnโซุงูููุชูุงูโฌ1โซุฆููููุฌโฌ2ูโซู
ูุจู
ุนโฌdูโซูู
ูุงุณูโฌaโซููููุฑู
ูุฃโฌrโซููู
โฌiโซูู
โฌ Dari Ibn Abbas Radiyallahu anhuma, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada kepadanya dan berkata saya adalah seorang yan membuat gambar ini, berikanlah saya fatwa tentang itu. Kemudian Ibn Abbas berkata mendekatlah kemari. Kemudian laki-laki itu mendekat. Ibn Abbas kembali berkata mendekatlah kemari. Kemudia laki-laki itu lebih mendekat lagi. Sampai askhirnya Ibn Abbas meletakkan tangannya di atas kepala laki-laki tadi seraya berkata saya akan berikan berita besar kepadamu dari yang saya dengar dari Rasulullah. Saya mendengar Rasulullah sallahu alaihi wa sallam bersabda setiap mushawwir tukang gambar masuk neraka. Kemudian setiap gambar yang dibuatknya diberi nyawa dan akan menyiksanya di neraka Jahannam.โ Selanjutnya Ibn Abbas berkata Jika kamu harus menggambar, maka buatlah gambar pohon dan apa pun yang tidak bernyawa. 6. Hadits Keenam Hadis dari Aisyah radhiyallahu anha muka daftar isi โซูู
โฌุูโซุฑุงูููุณูููููููููููุณูุนุงูู
ูุฑููููููุจูููู
ูู
ูููููุฅู
ูุตููุณูููููููโฌุููโซูููุตุงูู
ูู
ููููููโฌHโซููููโฌalโซูุนโฌaโซู
ุจโฌุmโซููู
ูู
โฌaโซููููโฌnโซุชุนูุงู
โฌ1ูโซูู
ูโฌ3โซูุฏโฌdโซูุจูููโฌaโซูู
ุนโฌrโซููุฎูโฌiโซูุนโฌ3โซูุชูุฏุฑโฌ8ูโซุงูููู
ู
ูู
ุจุญุงูููุจูุฅู
ุจูููุจูุฐุงุงุฎููุงู
โฌ.โซุงููููููููููููููููููููุงูุนูููููุชูุนูููุจู
ูููุฃูููู
ูููู
ูุนุนู
ูููุตููุจููุณูโฌ โDulu saya pernah bermain boneka-boneka di dekat Nabi sallahu alaihi wa sallam. Saya punya beberapa teman yang biasa bermain denganku. Ketika Rasulullah masuk ke dalam rumah, mereka bersembunyi darinya. Lalu beliau menyerahkan boneka-boneka itu kepadaku, dan mereka pun bermain denganku.โ HR. Bukhari muka daftar isi Halaman 14 dari 38 Bab 2 Hukum Tashwir Pendapat ulama terkait hukum gambar dan lukisan memang berbeda-beda. Dalam masalah ini setidaknya muncul tiga pendapat utama. Ada yang mengharamkan secara mutlak, ada yang membolehkannya secara mutlak dan ada juga yang berada pada posisi pertengahan. Posisi pertengahan maksudnya adalah mebolehkan gambar dan lukisan pada satu keadaan dan mengharamkan dalam keadaan yang lainnya. A. Halal Secara Mutlak Pendapat ini juga dipandang sebagai mendapat yang terlampau berani. Mengingat banyak sekali hadis yang secara spesifik membahas tentang lukisan dan si pelukisnya. Bahkan ada juga hadis yang menyebutkan ancaman adzab yang sangat teramat pedih bagi pelukis. Walaupun dipandang terlalu ekstrim dalam hal pembolehan gambar dan lukisan, namun pendapat ini pun memiliki dalil-dalil yang dijadikan sebagai pijakan hukumnya. Di antara dalil yang diambil adalah ayat-ayat al-Quran tentang syariat yang berlaku pada umat-umat terdahulu. 1. Larangan Hanya Pada Patung muka daftar isi Halaman 15 dari 38 Menurut kelompok yang membolehkan, bahwa semua hadis-hadis yang berkaitan tentang gambar, baik ancaman untuk meniupkan ruh, ancaman adzab yang sangat pedih hanya berlaku pada shurah mujassamah bentuk tiga dimensi seperti patung dan semisalnya yang dijadikan sebagai sesembahan selain Allah. Hal ini diperkuat dengan furman Allah subhanahu wa taโala โซููุงูููููู ูุฎูููู ูู ูู
ูููู
ุง ุชู ูุน ูู
ูููููโฌุโซููุงูู ุฃูุชู ูุนุจู ูุฏููู ูู
ุง ุชููู ู
ุญุชููููโฌ Ibrahim berkata \"Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu\". QS. Ash-Shaaffaat 95-96 Pendapat itu diperkuat lagi dengan hadis Nabi sallahu aโlaihi wa saalam sebagai berikut โซุฅู ุงููู ูุฑุณููู ุญุฑู
ุจูุน ุงูุฎู
ุฑ ูุงูู
ูุชุฉ ูุงูุฎูุฒูุฑ ูุงูุฃุตูุงู
โฌ โ sesunggunhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli Khomer, bangkai, babi dan berhala yang disembah.โ HR. Bukhari Menurut kelompok ini, gambar pada bidang datar musathah dibolehkan secara mutlak, tapi makruh. Namun jika itu berada pada posisi dan tempat yang tidak terhotmat, maka kemakruhannya akan hilang. Misal untuk alas lantai, keset, karpet dan sejenisnya. Rasulullah bersabda \" โซ ุฅูุง ุฑูู
ุง ูู ุซูุจโฌุโซูุง ุชุฏุฎู ุงูู
ูุงุฆูุฉ ุจูุชุง ููู ุตูุฑุฉโฌ muka daftar isi Halaman 16 dari 38 โMalikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar, kecuali hanya sekedar gambar di baju.โ HR. Bukhari Hadis ini difahami sebagai hadis muqayyad. Maka semua hadis tentang gambar masuk ke dalam hadis ini. Kemudian dalam hadis qudsi Allah taโala berfirman; โซ ููุฃูููุฃูุธููู
ูููููู
ูุฎููู
ูู
ููู ูููุงโฌุโซ ู
ุซููููููุงูููููุฎูููุฏููู
ุณูุง ู
ููุฐููุฑููุฉูู
โฌุโซู
ูููู ูุฎุงููููู
ููู ู
ุฏููโฌ โซุงูููููู ุชู ูุนุงููโฌ โซูู ููููโฌ โซููููู ูู ูุฎููููุงโฌ โซูุฐ ูู ูุจโฌ ูโซูุญุจูุฉโฌ Allah taโala berfirman di dalam hadis qudsi โsiapakah yang paling dzalim dibandingkan orang yang menciptakan sebegaimana ciptaan-Ku? Cobalah mereka ciptakan seekor semut kecil, atau ciptakan sebutir biji.โ Ini ancaman bagi mereka yang membuat seseuatu untuk meyerupai ciptaan Allah. Kenyataanya Allah tidak menciptakan sesuatu berbentuk datar sebagaimana gambar di bidang datar musathah. Tapi Allah menciptakan sesuatu dalam bentuk mujassam. Sebab itulah gambar pada bidang datar sebagiamana lukisan tidak masuk dalam keharaman karena sama sekali tidak sama dengan ciptaan Allah subhananu wataโala. Termasuk yang dijadikan argument oleh kelompok muka daftar isi Halaman 17 dari 38 ini dalam pembolehan gambar pada bidang datar adalah perbuatan Rasulullah dan para sahabat yang menggunakan bantal dengan bergambar makhluk bernyawa. Hal senada juga disampaikan oleh Imam Nawawi. Beliau berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan al-Mushawwir dalam hadis ini adalah pembuat patung yang 2. Syariat Umat Terdahulu Haramkan Patung Kelompok yang membolehkan gambar juga beragumen dengan syariat yang berlaku pada nabi- nabi sebelumnya syarโ man Qablana. Sebagaimana yang dikisahkan oleh al-Quran tentang Nabi Sulaiman alaihis salam. Allah berfirman โซูู ูุน ูู
ููููู ูููู ูู
ุง ูู ูุดุงุกู ู
ู
ูู ูู
ูุงู
ุฑู ูุจ ูููุชูุงุซู
ูู ููู
ุฌููุง ูู ููุงููููููุง ู
ุจโฌ โPara jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk yang tetap berada di atas tungku. QS. Saba' 13 Para Imam ahli tafsir seperti, Athiyah al-Aufi, ad- Dhohhak, as-Suddiy megatakan, yang dimaksud dengan tamatsil adalah shurah gambar atau patung yang bisa jadi terbuat dari tembaga, tanah dan Pertanyaanya kemudian, apakah syariat sebelum 2 Syarh Shahis Muslim, Imam Nawawi, juz 11, hal. 91 3 Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-Adzim, juz. 6, hal. 500 muka daftar isi Halaman 18 dari 38 kita menjadi syariat kita? Jawabnnya ada pada firman Allah โซุฃููููุฆู
ูู ุงูู ู
ุฐู ูู ูู ูุฏู ุงูููููู ููุจู
ูู ูุฏุง ูู ูู
ุงููุชู ู
ุฏู
ูโฌ โMereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk merekaโ. QS. Al-An'am 90 3. Dinar Dan Dirham Bergambar Manusia Pada masa Rasulullah, interaksi perdagangangan sudah sangat luas. Diantara Alat tukar yang lazim pada masa itu adalah dinar Romawi koin emas yang terukir gambar kepala raja Romawi dan dirham Persia keping koin perak yang terukir gambar kepala raja Persia. Jika gambar makhluk bernyawa ini diharamkan secara mutlak, tentu akan ada riwayat hadis tentang pengharaman koin dinar dan dirham yang bergambar kepala raja-raja Romawi dan Persia. muka daftar isi Halaman 19 dari 38 4. Penasfiran Yang Berbeda Nabi SAW bersabda โซุฅ ูู ุฃุด ูุฏ ุงูููุง ู
ุณ ุนุฐุงููุจ ุนู ูุฏ ุงููููู
ู ูููู
ุงูููุงู
ู
ุฉ ุงูู
ุต ู
ูุฑูููโฌ โsesungguhnya orang yang paling keras adzabnya di sisi Allah pada Hari kiamat adalah tukang gambarโ HR. Bukhari dan Muslim Ancaman berupa adzab yang pedih bagi Mushawwir dalam hadis tersebut disimpulkan oleh kelompok yang mengharamkan sebagai isyarat pengharaman. Namun bagi yang membolehkan gambar justru ditafsirkan berbeda dari penafsiran pertama. Imam Nawawi berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan al-Mushawwir dalam hadis ini adalah pembuat patung yang disembah. Atau bisa dimaknai juga sebagai al-mushawwir yang membuat gambar atau patung dengan tujuan mudhahat muka daftar isi Halaman 20 dari 38 menandingi dan menyaingi ciptaan Allah SWT. 4 Sebagaimana maklum bersama, bahwa dosa yang paling besar adalah dosa syirik, menyekutukan Allah subhanahu wa taโala dengan suatu apa pun. Termasuk menyembah berhala dan patung- patung. Jika hadis tersebut hanya dimaknai apa adanya, maka akan terjadi kontradiksi dengan dalil al- quran dan hadis yang menyatakan dosa terberat adalah Syirik. Menurut pendapat ini, penafsiran yang tepat agar tidak terjadi kontradiksi dengan dalil lain, maka al- mushawwir dalam hadis tersebut berarti pembuat patung dan berhala yang dijadikan sesembahan selain Allah. Menyembah berhala adalah haram karena termasuk syirik, dan memfasilitasi orang lain berbuat syirik juga haram. Dengan demikian, jika al- Mushawwir mendapatkan adzab yang paling pedih sebagaimana dalam hadis tersebut sudah sejalan dengan dalil-dalil yang lain. B. Haram Secara Mutlak Di samping ada kelompok ulama yang mebolehkan lukisan dan gambar makhluk bernyawa secara mutlak, ada juga kelompok ulama yang mengharamkannya secara mutlak. Pengharaman secara mutlak ini mencakup semua jenis gambar, dengan dan di media mana pun, baik yang digambar dan dilukis di atas media datar seperti 4 Syarh Shahis Muslim, Imam Nawawi, juz 11, hal. 91 muka daftar isi Halaman 21 dari 38 ketas dan kanfas maupun yang berbentuk tiga dimensi seperti patung dan sejenisnya. Disebutkan, pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama madzahab dari kalangan Hanafiyah, Syafiโiyah dan Hanabilah. Bahkan Imam Nawawi menganggap pendapat ini sebagai ijmaโ minus Malikiyah. Namun Ibn Nujaim dalam kitab ath-Thahtawi mempertanyakan tentang klaim ijmaโ yang disebutkan oleh Imam Nawawi. Anggapan ijmaโ itu kurang tepat karena dari kalangan Malikiyah secara terang-terangan tidak mengharamkan gambar yang dibuat pada bidang datar. Karena menurut mereka, yang diharamkan adalah gambar tiga dimendi seperti Dari kalangan Hanabilah secara tegas menganggap gambar yang diharamkan termasuk dalam katagori al-kabir dosa-dosa besar, karena ada ancaman waidyang ditujjukan bagi para tukang gambar. 6 Dalam pengharaman secara mutlak ini, setidaknya dilatarbelakangi oleh dua sebab; pemahaman dhahir nash tekstual dan sikap kehati-hatian. Berikut ini uraian dalil yang mereka usung. 1. Kemutlakan Hadis Menurut kelompok ini, hadis-hadis yang ada dalam permasalahan gambar, sangat banyak dan bersifat mutlak. Seperti hadis tentang laknat 5 Al-Umm, Imam SayfiโI, juz 6, hal. 182, lihat juga Ath- Thahthawi ala ad-Dur al-Mukhtar, juz 1, hal. 273 6 Al-Adab as-Syariyah, ibn Muflih, juz 3, hal. 513, lihat juga Kasyaf al-Qinaโ, al-Buhuti, juz 1, hal, 279-280 muka daftar isi Halaman 22 dari 38 Rasulullah terhadap tukang gambar, hadis tentang adzab yang pedih yang akan ditimpakan kepada para tukang gambar. Atau hadis tentang perintah meniupkan ruh pada setiap gambar yang dibuat. dan masih banyak lagi hadis-hadis yang lain. Tentu hal ini ttidak termasuk gambar-gambar benda yang tidak bernyawa seperti tumbuhan dan pemandangan alam. Adapun perbuatan Rasulullah dan sebagian sahabat penggunakan bantal bergambar makhluk bernyata tidak dapat dijadikan dasar kebolehan membuat gambar. Beliau hanya memamkai. Dan bolehnya memakai tidak berarti bolehnya 2. Sikap Kehati-Hatian Kendatipun tujuan orang untuk menggambar makhuk bernyawa sangat beragam, dan bahkan diantara para tukang gambar atau pelukis tidak melakukknya atas dasar kejahatan, namun tetap saja mengedepankan sikap kehati-hatian lebih utama dan lebih selamat. Mungkin saja seseorang melukis wajah nenek moyangnya, atau tetua di kampungnya hanya bertujuan untuk mengenang saja. Tapi anak cucunya setelah itu boleh jadi akan memuliakan dan mengagungkan gambar tersebut karena tidak faham. Generasi berikutnya mungkin akan membuat sesajian. 7 Radd al-Muhtar ala ad-Dur al-Mukhtar, Ibn Abidin, juz 1, muka daftar isi Halaman 23 dari 38 Generasi berikutnya lagi yang semakin tidak faham tujuan dibuatnya gambar tersebut akan menjadikannya sebagai sesembahan. Dan ini yang dikahwatirkan. Lebih bahaya lagi jika yang dilukis atau digambar adalah orang-orang yang dianggap mulia dan memiliki kedudukan terhormat semasa hidupnya. Hal semacam ini pernah terjadi juga pada umat Nabi Nuh alaihi salam yang dikisahkan oleh allah dalam Surat Nuh. โซููููุงูููุง ููุง ุชููุฐูุฑูู ุขูู
ูุชู ูู ูู
ููููุง ุชููุฐูุฑูู ููููุฏุง ููููุง ูุณููุง ูุนุง ููููุง ููุบูู ูุซโฌ โซููููุนูู ูู ูููู ูุณูุฑุงโฌ โDan mereka berkata, jangan sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kamu, dan jangan sekali-kali pula kamu meninggalkan penyembahan Wadd, dan jangan pula Suwaโ, Yaguts, Yaโuq dan Nasr.โ QS. Nuh 23 Imam Asy-Syaukani menyebutkan dalam tafsirya tentang kisah Wadd, Suwaโ, Yaguts, Yaโuq dan Nasr dulunya mereka adalah orang-orang sholih yang hidup pada zaman Nabi Nuh alahisaalam. Ketika mereka meninggal dunia, dibuatkanlah patung- patung, monument, yang masing-masing diberi nama mereka, untuk mengenang. Tapi sayangnya, generasi setelanya, anak cucu mereka tidak faham, dan akhirnya 8 Fath al-Qodir, Asy-Syaukani, juz 5, hal. 362 muka daftar isi Halaman 24 dari 38 C. Pendapat Pertengahan Ada kelompok yang terlalu keras dalam berpendapat, ada juga yang terlalu lunak. Namun di tengah kedua pendapat tersebut ada pendapat yang dinilai berada pada posisi pertengahan. Artinya, perndapat pertengahan ini tidak menafikan keharaman gambar dan lukisan pada keadaan dan kondisi tertentu, dan tetap memperhatikan kebolehannya dalam kondisi yang lain. Menurut kalangan Malikiyah dan Ibn Hamdan dari kalangan Hanbilah, bahwa gambar menjadi haram jika memenuhi beberapa kriteria berikut ini 1. Patung Manusia Dan Hewan Gambar manusia dan hewan yang memiliki bentuk tiga dimensi seperti patung dan berhala. Namun jika terlukis di atas bidang datar seperti dinding, kertas, dan kanfas hukumnya makruh dan tidak sampai pada derajat haram. Hal senada disampaikan juga Imam Nawawi, bahwa yang diharamkan hanya Shurah yang benbentuk patung timtsal.9 2. Gambar Dibuat Sempurna Menurut Malikiyah, jika gambar yang dibuat tidak memiliki kelengkapan badan seperti kepala yang terpotong, bentuk perut yang terkoyak dan lain sebagianya, maka secara mutlak tidak haram. Pendapat yang sama pun disampaikan oleh 9 Matn al-Khalil, Syarh ad-Dardir dan Hasyiah ad-Dasuqi, juz 2, hal. 337 muka daftar isi Halaman 25 dari 38 kalangan Syafiโiyah dan Hanbilah. 10 Hanya saja Syafiโiyah menghususkan hanya kepala saja. Jadi jika yang terpotong hanya perut atau kaki, maka tetap dianggap 3. Bahan Materi Tahan Lama Bahan baku pembuatan patung menggunakan bahan yang tahan lama dan awet seperti, batu, logam, dan kayu, maka hal tersebut diharmakan. Namun jika menggunakan bahan mudah rusak, seperti ukiran pada buah-buahan, keu, atau bermain patung-patungan dengan pasir pantai, mata tidak haram. 10 Al-Mughni, Ibn Qudamah, juz 7, hal. 7. Lihat juga Kasyaf al- Qinaโ, Al-Buhuti, juz 5, hal. 171 11 Tuhfah al-Muhtaj, Ibn al-Mulqin, juz 7, hal. 434. Lihat juga Asna al-Mathalib fi Syarhi Raudhu at-Thalib, Zakariya al- Anshari, juz 3, hal. 226 muka daftar isi Halaman 26 dari 38 Bab 3 Illat Diharamkannya Gambar Ulama berbeda pendapat dalam meyimpulkan sebab illah diharamkannya gambar. Perbedaan tersebut bisa dilihat pada uraian berikut ini A. Unsur Madharat Karena dalam gambar ada unsur mudhahat yaitu membuat penyerupaan dan tandingan terhadap ciptaan Allah subhanahu wataโala. Hal ini senada dengan hadis yang disampaikan oleh ummul mukminin Aisyah radhiyallahuanhu โซุฃุดุฏ ุงููุงุณ ุนุฐุงูุจ ููู
ุงูููุงู
ุฉ ุงูุฐูู ูุถุงููู ูุจูู ุงูููโฌ โorang yang paling pedih adzabnya pada hari kiamat adalah orang membuat tandingan dengan ciptaan Allah.โ Ketika seseorang menggambar pemandangan alam yang tidak bernyawa seperti gunung, hutan dan lautan dengan tujuan menyaingi dan menandingi Allah dalam ciptaan-Nya, maka ini ini juga haram. B. Wasilah Syirik Keberadaan gambar seringkali dijadikan sebagai salah satu wasilah atau perantara kesyirikan dan muka daftar isi Halaman 27 dari 38 penyembahan kepada selain Allah. Secara tidak langsung banyak orang yang mengagungakan seorang tokoh atau sesepuh yang sudah meninggal dengan cara ghuluw atau berlebihan. Sebagaimana kita tahu, bahwa Rasulullah diutus menjadi Nabi dan Rasul di tengah masyarakat yang mengagungkan berhala. Patung nenek moyang mereka. Sementara mereka sendiri tidak mau disebut sebagai penyembah berhala. Menurut mereka, berhala-berhala itu hanya dijadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wataโala. โซ ูุฏููู
ู
ู ุฃููููู
ููุงุกู ูู
ุง ูู ูุนุจู ูุฏ ูู ูู
ุฅู
ููุงโฌ.โซููโฌ..โซู
ุฑุจูููููุงูููู ู
ุฅู
ุฐููููู ุงููุงูููู
ูููุชูููุฒุฐูููููุงูู
ู
โฌ.โซููโฌ.ูโซูโฌ.โซูู
โฌ โโฆDan orang-yang mengambil pelindung selain Allah berkata Kami tidak meyembah mereka berhala-berhala, tapi berharap agar mereka mendekatkan kami kapada Allah dengan sedekat- dekatnyaโฆโ QS. Az-Zumar 3 C. Menyerupai Orang Kafir Pengharaman gambar murni karena tasaybbuh menyerupai dengan orang-orang kafir. Karena mereka punya kebiasaan menggambar atau membuat patung kemudian menyembahnya. Hal ini pun disampaikan oleh Ibn Hajar. Beliau mengatakan, bahwa patung-patung merupakan alasan mendasar muka daftar isi Halaman 28 dari 38 diharamkannya D. Menghalangi Masuknya Malaikat illah alasan selanjutnya adalah bahwa Keberadaan gambar di suatu ruangan menghalangi malaikat masuk ke dalamnya. Sebagaiman hadis yang diriwayatkan Aisayah radhiyallahu anha Namun illah ini dibantah oleh para ulama yang lain, termasuk dari kalangan Hanabilah. Karena jika tidak masuknya malaikat ke dalam rumah dijadikan illah keharaman gambar, seharusnya itu juga berlaku pada orang junub. Artinya, jika gambar dianggap haram karena menghalangi malaikat masuk , maka harusnya janabah juga dilarang karena menghalangi malaikat masuk ke dalam rumah. Namun ternyata tidak demikian. 12 Fath al-Bari, Ibn Rajab juz 10, hal. 395 muka daftar isi Halaman 29 dari 38 Bab 4 Wujud Tashwir A. Tumbuhan Dan Benda Mati Menggambar pemandangan alam; gunung, laut, tumbuh-tumbuhan, bintang, matahari, bulan, dll dibolehkan oleh syariah dan tidak masuk dalam hadis keharaman gambar. Padahal ini semua merupakan ciptaan Allah. Dan para ulama sepakat tidak ada perselisihan dalam masalah kebolehannya kecuali Imam Mujahid. Karena menurut beliau haram hukumnya menggambar tanaman yang berbuah. Imam Nawawi menduga keharaman menggambar tanaman berbuah yang dimaksud oleh Imam Mujahid berdasarkan hadis Rasulullah dari riwayat Abu Hurairah. โซูููุฎูููุง ุฐุฑูุฉ ูููุฎูููุง ุดุนูุฑูุฉโฌ โhendaklah mereka menciptakan semisal biji Dzarrah dan menciptakan semisal biji gandum.โ HR. Bukhari Dalam kamus al-Mishbah al-Munir, kata Dzarrah yang dimaksud dalam hadis ini adalah seekor semut kecil. Maka penyebutan dzarrah dalam hadis ini mewakili ciptaan Allah yang memeliki ruh. Sedangkan muka daftar isi Halaman 30 dari 38 penyebutan Syaiโir biji gandum mewakili tumbuhan yang bisa dimakan dan berbuah. Hanya saja para ulama memberikan catatan, bahwa tujuan pembuatan gambar benda-benda mati tersebut harus terhindar dari unsur kesyirikan dan tidak menjadikannya sebagai sesembahan. Sebagaimana kita tahu ada agama-agama tertentu yang menyembah matahari, api dan lain sebaginya. B. Boneka Mainan Anak-anak Mayoritas ulama sepakat bahwa boneka mainan untuk anak kecil dibolehkan. Hampir tidak ada perselisihan dalam masalah ini, kecuali hanya beberapa ulama saja. Pendapat ini didasari oleh hadis dari Aisyah radhiyallahu anha โซูู
โฌุู โซุฑุงูููุณูููููููููููุณูุนูู
ุงูุฑููููููุจูููู
ูู
ููู ููุฅู
ูุตููุณูููููููโฌุู ูโซู
ู
ุจูุนูููููููุตุงูู
ูู
ููููููโฌุโซุงูููู
ู
ูู
ุญุจุงูููุจูุฅู
ุจูููุจูุฐุงุงุฎููุงู
ููุชูุฏุฑูุน ูููุฎูู
ุนูุจููููุฏูู
ููุนู
ุชูุงููููููู
ูโฌ.โซุงููููููููููููููููููููุง ูุนูููููุชูุนูููู
ุจูููุฃูููู
ูููู
ูุนุนู
ูููุตููุจููุณูโฌ โDulu Aku pernah bermain boneka di dekat Nabi sallahu alaihi wa sallam. Saya punya beberapa teman yang biasa bermain denganku. Ketika Rasulullah masuk ke dalam rumah, mereka bersembunyi darinya. Lalu beliau menyerahkan boneka-boneka itu kepadaku, dan mereka pun bermain denganku.โ HR. Bukhari muka daftar isi Halaman 31 dari 38 Kebolehan pembuatan boneka untuk anak-anak menurut Ulama Hanafiyah, Syafiโiyah dan Hanbilah adalah karena dasar kebutuhan. Ini berlaku untuk anak laki-laki dan perempuan Khusus untuk anak perempuan bermain boneka itu membantu mereka menumbuhkan jiwa keibuan dalam merawat anak nantinya. Terlebih lagi jika boneka-boneka yang mereka mainkan berbentuk manusia atau bayi Namun secara khusus ulama Hanabilah memberikan beberapa syarat terkait boneka. Yaitu boneka yang tidak lengkap anggota Hukum yang terkait dengan boneka ini mencakup beberapa hal membuatnya, memainkannya dan jual belinya. Bahkan secara tegas, Abu Yusuf salah satu ulama Malikiyah membolehkan C. Memajang Gambar Makhuk Bernyawa Ulama dari kalangan Malikiyah memandang bahwa pengunaan gambar pada bidang datar musathah tidaklah haram. Namun menjadi makruh jika diletakkan pada tempat yang tinggi. Karena ada kesan memuliakan. Dan kemakruhan itu akan hilang jika gambar itu diletakkan di bawah. Seperti dipajang di dinding. Bagi para ulama lain selain dari kalangan 13 Al-Minhaj fi Syaโbi al-Iman, Al-Halimi, juz 3, hal. 97 14 Kasyaf al-Qinaโ, al-Buhuti, juz 1, hal. 280 15 Radd al-Muhtar ala ad-Dur al-Mukhtar, Ibn Abidin, juz 1, muka daftar isi Halaman 32 dari 38 Malikiyah, penggunaan gambar, baik yang musathah maupun yang mujassam tetap dianggap haram jika memenuhi kriteria berikut ini gambar makhluk bernyawa, gambar sempurna anggota badannya, ditempatkan pada posisi yang tinggi, tidak pada media yang kecil, bukan boneka untuk mainan anak dan terbuat dari bahan yang tahan lama. Hal senada juga disampaikan oleh Wahbah Zuhaili. Bahwa menggantung atau meletakkan gambar tashwir makhluk bernyawa ditempat yang tinggi hukumnya haram. Namun jika diletakkan di tempat di bawah, seperti karpet, lantai maka tidak mengapa. Jika yang dipajang di dinding adalah foto hasil photografi dari makhluk bernyawa, Wahbah Zuhaili membolehkannya asal tidak menimbulkan fitnah. 16 D. Baju Bergambar 1. Hanafi dan Maliki Ulama Hanafiyah dan Malikiyah menganggap makruh memakai pakaian yang bergambar makhluk bernyawa. Dipakai sholat atau pun tidak. Namun kemakruhan itu hilang jika baju bergambar itu masih dilapisi baju lagi di atasnya. Bahkan tak masalah dipakai untuk 2. Syafiโi Sedangkan Syafiโiyah menganggapnya boleh tapi 16 Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili, juz 4, hal. 2672 17 Radd al-Muhtar ala ad-Dur al-Mukhtar, Ibn Abidin, juz 1, muka daftar isi Halaman 33 dari 38 termasuk perbuatan munkar. Namun jika memakainya baju bergambar berada di bagian yang tidak terhormat, kain bagian bawah misalnya, maka justru 3. Hambali Dan dari kalangan Hanabilah terdapat dua pendapat. Yang satu mengharamkan dan satu lagi tidak haram. Pendapat yang kedua ini berdasarkan hadis โซุฅู
ูุงู ูุฑูู ูู
ุง ู
ูู ุซููู ูุจโฌ โkecuali gambar di bajuโ E. Fotografi Dalam masalah ini ulama berbeda dalam dua pendapat 1. Pendapat Pertama Photografi bukan termasuk tashwir yang disebutkan dalam hadis. Kelompok pertama ini menilai bahwa illat alasan diharamkannya tashwir adalah karena ada unsur mudhahat penyerupaan ciptaan Allah dengan hasil lukisan/ gambar. Dan unsur mudhahat penyerupaan tidak didapati dalam photografi karena prosesnya hanya menangkap gambar/bayangan dari ciptaan Allah. Bukan membuat. Dr. Wahbah Zuhaili dalam kitabnya, al-Fiqh al- 18 Syarh al-Minhaj wa Hasyiyah asy-Syarwani, ibn Hajar al- Haitami, juz 7, hal. 432 muka daftar isi Halaman 34 dari 38 Islamiy wa Adillatuh, secara tegas menyatakan kebolehan foto, bahkan tidak masalah memajangnya di dinding rumah asalkan tidak menimbulkan fitnah seperti foto wanita yang terlihat auratnya. Kebolehan ini berlaku juga untuk foto berberak video.19 2. Pendapat Kedua Photografi masuk dalam istilah tashwir sebagaiana yang disebutkan dalam hadis. Para ulama dalam kelompok ini beranggapan bahwa hadis tentang tashwir berlaku umum tanpa membedakan prosesnya. Yang dilihat adalah hasil gambarnya, baik dengan lukis maupun photografi. Jika objek photografi adalah makhluk bernyawa, maka hukumnya sama sebagaimana gambar. 19 Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili, juz 4, hal. 2672 muka daftar isi Halaman 35 dari 38 Kesimpulan Para ulama berbeda pendapat dalam masalah hukum tashwir gambar. Ada hukum yang disepakati dan ada juga yang diperselisihkan, baik keharamsnnya maupun kebolehannya. Yang disepakati keharamnnya di antaranya adalah gambar yang berbentuk tiga dimensi, seperti patung dan berhala yang dijadikan sebagai sesembahan. Sedangkan yang disepakati kebolehannya diantaranya adalah gambar yang tidak sempurna kelengkapan aggota tubuhnya. Baik gambar datar mau yang tiga dimensi. Dan ada juga permasalahan yang diperselisihkan. Diantaranya adalah gambar makhluk hidup, manusia dan binatang yang berbentuk musathah di bidang datar. Tentu pada hal yang diperselisihkan tersebut, masing-masing pendapat ada dalil yang dapat kita pelajari. Wallahu aโlam bi ash-shawah muka daftar isi Halaman 36 dari 38 Tentang Penulis โช AHMAD HILMI, lahir di Rembang Jawa Tengah, 14 Juli 1987. Aktif sebagai pengajar fikih dan ushul fikih di Pondok Pesantren islam Babul Hikmah Kalinda Lampung Selatan. โช Di samping itu juga, penulis membina beberapa Majelis Taklim di wilayah Kalinda Lampung Selatan dan lebih konsen dalam kajian Fikih. โช Penulis menyelesaikan S1 di Universitas Islam Muhammad Ibnu Suud, Kerajaan Arab Saudi, cabang LIPIA Jakarta, Fakultas Syariah. โช Kemudian menyelesaikan pascasrajana S2 di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung UIN RIL Prodi Hukum Ekonomi Syariah. muka daftar isi Halaman 37 dari 38 โช Penulis dapat dihubungi di nomer 085226360160 muka daftar isi P a g e 38 RUMAH FIQIH adalah sebuah institusi non-profit yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan dan pelayanan konsultasi hukum-hukum agama Islam. Didirikan dan bernaung di bawah Yayasan Daarul- Uluum Al-Islamiyah yang berkedudukan di Jakarta, Indonesia. RUMAH FIQIH adalah ladang amal shalih untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Rumah Fiqih Indonesia bisa diakses di muka daftar isi
hadits tentang seni rupa